LSM Gerhana Pertanyakan Lambatnya Progres Pekerjaan, Pengendalian Banjir Sungai Bolango

Gorontalo, (MEDGO.ID) — Pekerjaan normalisasi sungai Bolango, yang menelan anggaran ratusan milyar, terkesan jalan ditempat. Hal ini disampaikan oleh Lembaga swadaya masyarakat (LSM) Gerhana, Provinsi Gorontalo.

Saat menemui media, Ketua Bidan Jasa Kontraktor LSM Gerhana, menyampaikan bahwa memang sedari awal lelang ia mengamati keberadaan kontraktor pengendalian banjir sungai bolango Balai sungai wilayah Gorontalo, yang menelan anggaran milyaran rupiah ini, ditenggarai administrasi dokumen lelangnya, tak sesuai dengan dilapangan, saat pelaksanaan pekerjaan, padahal itu tak boleh terjadi.

“Kami memantau pelaksana pekerjaan PT Bumi Karsa, selaku pemenang proyek normalisasi sungai bolango, pada tahun 2017 lalu. Beberapa hal yang menjadi perhatian kami, seperti dalam dokumen lelang, melampirkan peralatan merupakan milik sendiri, tapi kami menemukan dilapangan justru tak seperti itu,” kata Steven Nurdin Kabid Jasa Konstruksi LSM Gerhana, pada Kamis (26/03) diwarkop aceh, jalan Panjaitan, Kota Gorontalo

LSM Gerhana Steven Nurdin Ketua Bidang Jasa Konstruksi

Steven yang merupakan koordinator bidang Jasa Konstruksi, menyayangkan perusahaan sebesar itu, masih mengandalkan peralatan sewa, selain anggaran yang terbilang besar, belum lagi pengalaman pekerjaan yang dilampirkan sangat banyak dan ratusan milyar, ia heran masih menggu akan armada sewa.

“Kalau perusahaan sebesar itu masih mengandalkan peralatan sewa, pantas aja progres pekerjaan sangat lambat, dan terkesan ada penghematan biaya pekerjaan dengan menyewa alat berat dan dum truck,” sambung Steven.

Ia mengakui, memang pekerjaan tahun jamak, namun demikian, tak berarti melaksanakan pekerjaan tak sesuai dengan metode dan peralatan yang diajukan, sebab kalau hanya begitu modelnya, pelaksana pekerjaan lokal bisa juga, tak harus membanggakan kontraktor nasional, tapi alat kecil saja disewa.

BACA JUGA :  Siap-siap! KPU Pohuwato Akan Turun Mengecek Data Pendukung Bapaslon Perseorangan

“Dari awal kami ikuti betul proyek normalisasi sungai ini, dan meski masa pekerjaannya multi year (tahun jamak), tak harus demikian realisasinya, buktinya, informasi yang kami miliki, kontrak pekerjaan ini, sudah mendapatkan perpanjangan waktu, dari pihak Balai Sungai Wilayah Gorontalo,” lanjut Steven.

Steven justru menantang wartawan untuk meninjau langsung dilokasi proyek, terkait apa yang disampaikanya, untuk menguji kebenaranya, informasintmya, sebab LSM Gerhana tak akan membiarkan uang rakyat, yang sudah dialokasikan untuk kepentingan nornalisasi sungai, penggunaan-nya, jauh dari harapan

“Kami berharap, dengan kehadiran LSM Gerhana, akan menjadi warning bagi setiap kontraktor, dalam pelaksaan pekerjaan, imementasikan metode dan peralatan yang sudah dimasukan dalam dokumen lelang, agar hasil pekerjaannya memberiakan kualitas dan kepuasan masyarakat,” minta Steven.

Ia juga berjanji akan mengawal terus pekerjaan ini, sampai dengan selesai, dan sementara melalukan kajian dengan tim hukum, terkait apa yang menjadi temuan LSM Gerhana dilapangan.

Saat awak media menelusuri lokasi pekerjaan pengendalian sungai bolango, pada Jumat (27/03) nampak sepi aktifitas pekerjaan, terlihat 3 alat berat ekavator terparkir dan dum truck 6 roda sekitar 10 unit, masih menunggu muatan lumpur, dan satu alat berat untuk tiang pancang.

BACA JUGA :  Operasi Pekat Otanaha I 2024: Enam Remaja Ditangkap Polresta Gorontalo Kota karena Pesta Miras di Kos

Selain itu material penahan tebing, belum semua dipasang sesuai spek teknisnya, nampaknya sisa penahan tebing yang menunggu antrian alat berat untuk dikerjakan.

Untuk tenaga kerja disepanjang aliran sungai yang menjadi lokasi pekerjaan, hanya ada tak lebih dari tiga kelompok kerja, untuk pengecoran penhanan banjir disepanjang aliran sungai. Terlihat hasil pekerjaan pengecoran dari arah jembatan Biau, pekerjaan beton sekitar 20 meter, padahal yang belum dicor sekitar 150 meter.

Dari arah jembatan Piloloda’a, ada juga pekerja yang sementara melamukan pengecoran, sekitar 50 meter. Untuk pekerjaan bronjong sudah tidak ada aktifitad dilapangan lokasi proyek tersebut.

Saat ditemui di direksi kit PT Bumi Karsa, awak media hanya ditemui oleh satpam yang sementara berada didepan kantor proyek pengendalian banjir sungai bolango. Rencananya wartawan mau menemui manajer proyek, tapi yang bersangkutan tak berada ditempat, hanya disuruh menemui bagian tekniknya.

Saat wartawan sudah menemui Taufik bagian teknik PT Bumi Karsa, ja menjelaskan bahwa apa yang disroti oleh LSM Gerhana benar, sebab pekerjaan dilapangan sementara berjalan, dan per Maret 2020 kemajuan pekerjaan hampir selesai, dengan sisa waktu yamg masih cukup lama.

“Kontrak kami senilai 160 an milyar, sampai Desember 2020 nanti, sejak Desember 2017 lalu, jafi masih cukup untul menyelesaikan sisa pekerjaan ka.i,” kata Taufik bagian teknik PT Bumi Karsa selamu kontraktor normalisasi sumgai bolango, di Kota Gorontalo.

BACA JUGA :  Gelar Bimtek Pemuktahiran Data Pemilih, Usman Dunda : Pantarlih Akan Datangi 113.943 Pemilih 

Ia juga tak membantah bahwa pihaknya menggunakan alat berat dan armada sewa, karena untuk menambah dukungan alat dan armada perusahaaannya. Namun tak benar bahwa semua peralatan yang ia gunakan dari awal hanya mengandalkan sewa.

“Perusahaan memiliki alat dan mobil angkutan material lumpur dong, hanya memang untuk menambah percepatan pekerjaan kami harus menyewa alat dan armada lain,” bantah Taufik.

Selain itu ia menyangka bahwa belum nampak kegiatan pekerjaan geliatnya, sama seperti diawal, tak berarti bahwa perusahaannya melakukan penghematan, justru masih menunggu material pancang, yamg masih dikirim, dan akan tiba pada bulan depan.

“Ada bahan pancang beton kotak, untuk penyangga tiang penahan banjir yang berada pas depinggir sungai. Bahan ini masih menunggu dalam perjalanan, diperkirakan tiba pada bulan april nanti,” kilah Taufik.

Ia juga menjelaskan bahwa saat ini mang asih belum menggunakan tenaga kerja lebih, adapun pekerja yang ada sekedar mengisi waktu sabil menunggu tiang panjang yang falam perjalanan. Jadi memang bobot pekerjaan sekaramg berkisar 67 persen dengan sisa waktu kontrak 9 bulan, sampai akhir Desember 2020.

Terkait adanya sorotan dari masyarakat dan LSM Gerhana, menurut Taufik hal ini bagus, dan sebagai pelaksana merasa bersyukur adanya pemantauan ini, juga ia berharap bila ada yamg ganjal dalam pelaksanaan pekerjaan hendaknya dapat berkomunimasi langsung , untuk.mempermudah pelaksaan proyek serta hasilnya dikontrol bersama.(MDG)