Catatan Ayah dan Putrinya

Loading...
Loading...

Oleh : Basri Amin

INI adah tentang keluarga, ilmu, dan kehidupan. Melahirkan seorang putri yang hebat sudah berhasil dibuktikan oleh pasangan (Professor) Lucky W Sondakh dan Sjul Kartina Dotulong. Putrinya, Anggie Sondakh, adalah mantan Putri Indonesia, cerdas di publik, punya pengalaman internasional, sebagai politisi nasional di partai besar dan menjadi tokoh perempuan Indonesia yang fenomenal (keputusannya ber-hijab, punya anak tunggal, ditempa beberapa musibah, dst).

Sekian tahun “reputasi sukses” keluarga ini melintasi Sulawesi, Jakarta, dan Indonesia. Mereka adalah keluarga terpandang di Sulawesi Utara dan bahkan, Anggie Sondakh, terterima-baik di Jawa dan berperan luas di banyak daerah. Anggie melambung di ketinggian pencapaiannya! Tak semua orang mampu meraihnya. Tapi, begitu banyak yang berubah ketika Anggie mengambil keputusan-keputusan pribadi (menikah, ber-hijab, masuk partai, dst). Ayahnya punya daftar “nasehat” sejak awal.

Semua itu berubah lagi ketika Anggie dinyatakan harus masuk penjara karena (kasus) korupsi yang dituduhkan/terbukti pada dirinya. Anggie mambayarnya dengan pengorbanan luar biasa (terpisah dengan putra tunggalnya, sendiri/ditinggal suami, renggang dengan keluarga besarnya, runtuh reputasi-nya, dst). Berita demi berita selama di penjara, pelan tapi pasti, mulai banyak berubah –dari tema korupsi/penjara/politik, menjadi kisah-kisah manusiawi yang menyentuh hati dan perasaan baru–: tentang anak, keibuan, keagamaan, cinta-kasih Pak Lucky/Ibu Sjul kepada Anggie dan Keanu Massaid.

Pemberitaan tentang keluarga ini akhirnya berujung kepada soal-soal penjara, pemaafan, penerimaan, pengharapan, pertumbuhan anak, dan tentang “cinta-kasih” yang terguncang. Jika kita simak dan rela-hati berkaca kepada kisah-kisah mereka, kita akan menemukan banyak insights. Bahwa kehidupan manusia memang adalah “perjalanan berliku”. Selalu terdapat ancaman dan kecemasannya sendiri-sendiri. Hanya dengan kekuatan harapan dan penyerahan kepada Kekuatan Tertinggi –-sang Dia, sebagai “titik tuju” satu-satunya di mana semua makhluk berpulang padaNya.

Lucky Sondakh dan putrinya, Anggie, akan menjadi kisah yang masih akan menyisakan kisah-kisah selanjutnya. Dalam keluarga ini, ada seorang anak yang tengah tumbuh, Keanu. Opa dan Omanya semakin sepuh, tapi Anggie masih punya banyak “sahabat” dan “keluarga besar” di negeri ini. Sebuah keluarga bernama “bangsa Indonesia” yang setiap saat harus menerima keragaman, kisah-kisah hidup, dan perbedaan riwayat hidup dari setiap anggota.

BACA JUGA :  Menimang Penjabat Walikota dan Bupati Kampar

Anggie, baik ketika masih di dalam tahanan negara maupun ketika berada di luar, saya rasa akan beroleh “reputasi hidup” yang lebih baru. Anggie telah beroleh banyak “pem-baru-an” dalam kehidupannya. Ia, kita berharap demikian, sudah tuntas betul memahami apa arti kesalahan dan kejatuhan, nasehat orang tua yang diabaikan, pertemanan politis yang serba materi dan transaksi, sanjungan media, serta kekalnya cinta-kasih keluarga. Anggie juga sewajarnya sudah “matang” melewati masa-masa duka dan kegetiran menerima fakta-fakta hidup. Anggie, dalam kata-kata dia sendiri, sadar akan “tamparan Tuhan kepadanya” (https://www.youtube.com/watch?v=zwXA4hjQktw).

Anggie kini sudah (mulai) bebas. Di hari pertama pertemuan dengan putra tunggalnya dan dengan ayah-bundanya, dipenuhi kucuran air mata. Tentu ini tak semata tentang kesedihan, tapi juga tentang kebahagiaan. Bahasa “mata” terpandu dari kedalaman hati, dipantulkan oleh wajah dan kata-kata, tapi ia seringkali bernegosiasi dengan pikiran dan perasaan. Mereka kini tengah merebut kembali integritas dan kapasitas hidup yang sekian lama sudah tertanam. Lucky sondakh, sang ayah, sangat optimis. Cinta kasih, kognisi yang baik, cucu yang sehat nan-cerdas dan toleransi di antara mereka akan mewarnai hari-hari keluarga ini ke depan.

Lucky Sondak mengulang beberapa kata kunci yang mencerminkan nilai-nilai keluarganya dan prinsip-prinsip kehidupan yang ia pegang sejauh ini: integritas, cinta kasih, dan toleransi. Dalam mewujudkannya, ia juga mengulang soal-soal keutamaan kesehatan/fisik, simpati, dan kognisi. Untuk itu semua, Pak Lucky memungkasinya tentang kehadiran (rahmat) Tuhan, “The God”.

Lucky Sondakh (l.1944) dan putrinya Anggie (l.1977), sebenarnya punya ikatan yang tak bisa dipandang sebagai kisah biasa. Di beberapa wawancara, kita menyaksikan bagaimana “keterbukaan bicara” dan inteleksi keduanya terasa. Dalam kesedihan mendalam pun, mereka bisa mengutarakan beberapa point of views yang hebat. Pak Lucky bahkan sesekali merujuk buku-buku klasik dari Plato dan ungkapan-ungkapan pujangga Inggris Shakespeare, dsb. Anggie pun selalu menerima kiriman buku-buku dari Dad-nya.

BACA JUGA :  Memuliakan Pejabat, Merayakan Jabatan

Tentang Pak Lucky Sondakh, di bidang akademisnya, ia sangat mumpuni. Bukan karena ia pernah menjadi Rektor di Universitas Sam Ratulangi, tapi lebih jauh dari itu bahwa Pak Lucky berhasil menjadikan ilmu pengetahuan (agricultural economics) dan sikap-sikap ilmiah yang solid-handal serta membumi dalam memajukan pembahasan keadilan ekonomi dan keseimbangan kawasan di republik ini sejak akhir 1980an. Kita berkaca, banyak orang yang meraih jabatan (di kampus) tapi masih sedikit yang sungguh-sungguh meraihnya dan/atau terpilih karena “otak lurus” dan reputasi akademis yang teruji/otentik, persisten berGuru, berkeringat-belajar bersama data, bacaan, dan nalar terbuka, serta konsisten mencipta dan mengerjakan gagasan. Banyak yang tampil karena “joki”, bayar-membayar, kuliah lalu-lalang, karya alakadarnya –- berasal dari keringat orang lain–, dan perangainya adalah inward looking dan pencari pengikut/penjilat -“yes, man!”–.
Buku terkenal, Indonesia Beyond Suharto (1999), disunting oleh Donald Emerson dari Universitas Stanford, Amerika Serikat, merujuk hasil-hasil riset (Prof) Lucky Sondakh. Dalam buku ini, pada bagian yang ditelaah oleh Michael Malley dari Universitas Ohio, jelas menyatakan bahwa tesis Lucky Sondakh mampu menerangkan Indonesia, terutama tentang ketimpangan Indonesia Timur dan Barat. Pada era 1990an, yang terjadi adalah “pembatasan regulasi untuk sektor agrikultur di bagian Timur Indonesia dan pemberian perlindungan terhadap produk-produk utama di pulau Jawa…ini adalah tentang stabilitas sosial yang menempatkan kawasan Barat lebih untung, terutama karena industrinya beroleh sokongan bahan-bahan mentah dari kawasan luarnya” (Malley, 1999: 176-177). Lucky Sondakh sejak awal 1990an sudah bersuara lantang tentang keadilan kawasan, kemiskinan dan sentimen-sentimen regional yang berpotensi terpicu karena kebijakan (ekonomi nasional). Karya akademisnya diterbitkan dan dirujuk oleh jurnal-jurnal (ilmiah) terpandang di dunia (BIES-ANU di Australia, dst).
Pada tahun 1995, bersama beberapa pakar utama yang terlibat di International NGO Forum on Indonesian Development (INFID) –-melalui konferensinya di Paris (1994), Lucky Sondak menulis tentang program Inpres Desa Tertinggal (IDT) dan efektivitasnya di Kawasan Timur Indonesi (KTI). Dalam artikel ini, terasa sekali bagaimana Lucky Sondakh membaca banyak “debat publik” di media massa dari berbagai kalangan dan meletakkannya dalam satu sudut pandang yang segar dan memihak. Ia merujuk banyak pandangan –dan tentu saja kontradiksi-kontradiksinya— tentang “desa” dan “kemiskinan”. Lucky menggunakan frase “pesona politik” untuk (setiap) kebijakan yang sepertinya menjanjikan untuk urusan desa dan kemiskinan. Terdapat 5 (lima) asumsi besar tentang Desa dan Kemiskinan yang dibongkar-terang oleh Lucky Sondakh.
Dibaca dari kepentingan hari ini, hampir semua temuannya masih sangat relevan (baca: Negara dan Kemiskinan di Daerah, 1995: 103-119). Teori penting dari Lucky Sondakh ialah tentang kebijakan “kawasan tertinggal” dan bukan tentang “desa tertinggal”; ia lebih menekankan pendekatan “ekosistem dan lingkungan ekonomi desa miskin”. Karya penting lain Lucky Sondakh yang menarik dicermati adalah “Pembangunan Daerah dan Perekonomian Rakyat”. Ini adalah artikel utama di jurnal Prisma (1994). Jika dibaca dengan cermat, kita akan menemukan betapa perjalanan Republik ini penuh dengan kesenjangan.
Jelaslah bahwa kita butuh membentuk negeri ini menjadi negeri yang lebih adil, rasional, dan optimis. Dan Lucky Sondakh punya karya dan komitmen yang telah ditorehkan sepanjang kariernya sebagai ilmuan, termasuk ketika menyunting/menulis tentang “Pijar-Pijar Pikiran Sam Ratulangi” (2004, editor L.W. Sondakh & Reiner Ointoe, 328 hal, Media Pustaka & Unsrat Press. Riset Data oleh “Katty” Isnaeni). Saya menyumbangkan artikel 16 halaman di buku ini, “Wawasan Masa Depan Sam Ratulangie”.
Semoga Pak Lucky dan Anggie Sondakh beroleh tempat sewajarnya dalam sejarah kebangsaan kita dan bagi peradaban Indonesia yang makin membutuhkan spirit keilmuan, good governance, keagamaan yang inspiratif, kecendekiaan yang membumi, kedamaian yang menyentuh semua orang, serta cinta-kasih yang melintasi generasi dan sekat-sekat kelompok dan wilayah. Itulah jiwa Si tou timou tumou tou! Menjadi Manusia yang memanusiakan orang lain…”. ***

BACA JUGA :  Menimang Penjabat Walikota dan Bupati Kampar

Penulis adalah Alumnus UNSRAT, Manado (1992-1996).
Surel: basriamin@gmail.com