Beda Gaya, Kebijakan Penanganan Covid-19 Dua Pimpinan Daerah Ini Disorot Masa

Kiri: Bupati Agam Dr. Ir. H. Indra Catri, MSP., gelar Datuak Malako Nan Putiah, Kanan: Wako Bukittinggi H.M Ramlan Nurmatias Dt Nan Basa

Sumbar, (MEDGO.ID) – Dalam mencegah serta mengantisipasi penyebaran virus corona (covid-19), bermacam upaya penanganan covid-19 dilakukan oleh Pemerintahan Pusat, Provinsi dan Kabupaten Kota. Kebijakan dan langkah dalam mengantisipasi telah dikeluarkan. Baik keputusan yang bersifat kontroversial maupun yang senada dengan kebijakan pusat. Himbauan, edaran, maklumat, telah dikeluarkan, termasuk penanganan di lapangan.

Seperti yang terjadi di Kabupaten Agam, seluruh kegiatan pasar di Kabupaten Agam ditutup, terhitung mulai Senin (30/3), himbauan Bupati Kabupaten Agam dalam pemberitaan yang beredar dan terbaca oleh publik.  langsung mendapat reaksi dari beberapa tokoh masyarakat. Ada yang Pro, kontra, maupun memilih menyimak saja.

Sangat kompleks memang, karena sebagian besar mata pencaharian masyarakat Kabupaten Agam bertani dan berdagang, maka kebijakan tersebut perlu ditinjau ulang. Hal ini disampaikan oleh beberapa orang tokoh masyarakat asal Kabupaten Agam.

Aktifitas Pasar di Bukittinggi

“Kalau akses pasar ditutup, kemana petani akan menjual hasil taninya dan kemana pula petani kita dan masyarakat kampung  membeli kebutuhan sehari-hari, Kita tidak masalah dengan semua kebijakan yang telah dibuat pemerintah, tapi sebenarnya kami mengharapkan solusi multiefek yang mampu mengatasi masalah tanpa membuat masalah yang baru, kami menilai keputusan Pemerintah Daerah Agam ini belum tepat karena masih ada solusi lain selain penutupan pasar,” ujar Ketua Asosiasi Bukittinggi Agam Pedagang Salero (BADASO) yang senada dengan beberapa orang tokoh, maupun masyarakat, petani dan pedagang pada medgo.id selasa (31/3).

BACA JUGA :  Jokowi Memilih Sekertaris Daerah Marullah Matali Alumni Saudi Arabia

Berbanding terbalik dan bertolak belakang antara Pemda Agam dan Pemko Bukittinggi. Daerah yang secara geografis berdekatan dan memiliki hubungan kekerabatan adat, yakni Luhak Agam, justru melakukan kebijakan sebaliknya.

Forkopimda Kota Bukittinggi yang dipimpin langsung oleh Walikota Bukittinggi,  Ramlan Nurmartias, SH Datuk Nan Basa turun ke pasar yang ada di Kota Bukittinggi dan langsung menyampaikan ke pedagang dan masyarakat, bahwa Kegiatan dan Aktivitas Pasar di Bukittinggi tetap berjalan.

“Tidak ada Penutupan Pasar Oleh Pemko, Kalau ada isu-isu Pasar ditutup, itu tidak benar, yang menyampaikan Pasar Bukittinggi tutup, itu adalah hoax, Kalau ada pedagang kita yang mau masuk ke Sumatera Barat silahkan, tapi seluruh warga yang akan masuk di perbatasan Kota kita tes dan periksa suhu tubuhnya, Juga disetiap pasar kita siapkan sarana dan prasarana fasilitas sterilisasi berbentuk sebuah Box untuk melakukan penyemprotan cairan desinvektan, Jadi pedagang dan pengunjung masuk dalam keadaan bersih dan keluar juga dalam keadaan bersih. ” ujar Ramlan Nurmatias dalam beberapa video yg sempat viral di media sosial beberapa waktu lalu.

BACA JUGA :  Warga Melawi Digemparkan Wanita Muda Gantung Diri di Salon

Pihaknya juga menyampaikan, untuk memutus mata rantai penyebaran covid-19, masyarakat dan pedagang diharapkan mengikuti anjuran dan himbauan pemerintah, bukan yang lain, atau isu-isu yang menyesatkan. Kita tidak mengerti juga ada pihak pihak yang menyebar isu-isu yang membuat masyarakat panik disaat situasi sulit seperti ini, Pakailah masker dan jaga jarak diatas 1.5 meter saat berinteraksi dengan semua orang. Kita juga berupaya melakukan penyempurnaan untuk memutus mata rantai penyebaran covid-19 ini.

Bahkan tidak tanggung-tanggung, Wali Kota Bukittinggi kembali mengeluarkan kebijakan terkait dampak penanganan penyebaran covid-19 di Bukittinggi. Kali ini, wako memutuskan untuk membebaskan pedagang di seluruh pasar di Bukittinggi dari retribusi selama empat bulan kedepan.

BACA JUGA :  Kapolri Idham Aziz Pastikan Calon Kapolri Dikawal Lintas Angkatan Saat Fit And Proper Test 

Wali Kota Bukittinggi, Ramlan menjelaskan, saat ini kondisi ekonomi masyarakat sangat sulit. Pasar memang tidak pernah ditutup, namun karena kondisi antisipasi penyebaran covid-19, tentu berdampak pada penurunan omset. “Kami paham itu dan berupaya memikirkan jalan keluar untuk membantu ekonomi warga, khususnya pedagang. Untuk itu, tahap awal, kami putuskan untuk membebaskan pedagang yang ada di tiga pasar, Pasar Aur, Pasar Bawah dan Pasar Atas dari retribusi, selama empat bulan kedepan,” tegas Ramlan.

Dengan perbedaan kebijakan yang dikeluarkan, masyarakat maupun publik bisa menilai. Sudah mampukah seorang Pemimpin memberikan rasa aman, nyaman dan ketenangan kepada masyarakatnya. Setiap warga Negara pasti sangat mendukung kebijakan pemerintah yang memikirkan kemaslahatan warga masyarakatnya. Sikap rasional dalam membuat sebuah kebijakan jadi penentu. Semoga bencana dan mata rantai penyebaran covid-19 ini segera berakhir.(HF)

Editor: Surya Hadinata

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here