Warga Korban Banjir Kota Gorontalo Demo. Sekot Ismail Majid : Jangan Saling Menyalahkan

Tampak warga korban banjir Kota Gorontalo melakukan aksi demo dikantor Walikota, dan sekertaris Kota Ismail Majid tengah menerima para pengunjuk rasa (Foto Imran Husain)

Kota Gorontalo, (MEDGO) — Aksi protes yang di suarakan oleh Barisan Relawan Jalan Perubahan ( BARA JP )di Kantor Walikota Kota Gorontalo Sehingganya, sekretaris daerah pemerintah kota menanggapi persoalan tersebut. Rabu (5/8/20)

“Terkait dengan bagaimana penanganan banjir yang melanda khususnya kota gorontalo, bicara tentang ini kita juga capek sudah 9 kali bahkan mungkin kita sampai jam 2 malam ini ingin menelusuri dari padebuolo, kampung bugis, talumolo sampai dengan termasuk pak wali dan wawali juga dan teman-teman, kita ditengah pandemi yang kurang lebih sudah 6 bulan kita juga dengan banjir ini menambah artinya juga bukan beban tapi kesibukan itu bagian dari tugas kita sebagai aparatur artinya kita sebagai pejabat atau katakanlah sebagai ASN tentunya harus melindungi masyarakat tentunya harus untuk melakukan upaya-upaya ketika masyarakat dilanda banjir atau bencana lainya itu adalah kewajiban dari pemerintah kota gorontalo,”ungkapnya

“Bicara tentang pesoalan banjir memang banyak penyebabnya, banyak mengatakan banjir ini ada siklusnya, ada siklus tahunan, ada siklus 5 tahunan dan juga 15 tahunan dan itu beda-beda debit airnya pada waktu ditahun 2006 itu luar biasa, dengan adanya upaya-upaya akhirnya salah satu pembangunan kanal tamalate, alhamdulillah walaupun hujan selama ini tapi airnya tidak sebesar itu artinya tertangani,”

Sekretaris Daerah Kota Gorontalo, Ismail Madjid mengatakan pemerintah kota dan Bonebolango sudah melakukan pertemuan membahas permasalahan banjir ini, menurutnya juga, Bupati bonebolango akan mengevaluasi kondisi hutan taman nasional.

“Kemarin kita juga secara bersamaan kami juga mewakili pak wali dalam seminar pada saat itu memang pak bupati bonebolango itu menyampaikan bahwa beliau akan menertibkan lahan-lahan yang ada di hulu,”ucapnya

“Artinya memang disamping debit air karena curah hujan yang luar biasa, bayangkan itu terjadi pada saat banjir yang pertama memang banjirnya diujung yang dihulunya itu saya dengan pak wali dan wawali itu setengah 5 turun dari kantor walikota ada lihat-lihat,”ucapnya lagi

“Ini banjir ini juga tadi disampaikan bahwa secara ada pohon-pohon mulai kurang, ini ada terjadi juga penyempitan artinya sungai dan lain sebagainya, ini juga bukan saling melempar masalah ini tetapi ketika terjadi penyempitan ketika sepadan sungai semakin kecil penyebabnya artinya banyak masyarakat juga yang membangun idas daerah aliran sungai ini memang daerah aliran sungai ini kalau dalam bahasa aturannya itu kalau misalnya sungai besarnya itu kalau tidak ada tanggul itu kurang lebih harus minimal 25 sampai 50 meter itu harus tidak bangunan di sana.

Persoalan banjir ini memang multi dimensi banyak yang terkait, baik terkait dengan secara alam sebagian pula tidak sesuai dengan yang sesungguhnya kemudian juga ditambah dengan perilaku kita masyarakat kemudian infrastruktur juga, artinya banjir yang ada di kota gorontalo ini karena memang tanggul jebol,”ungkapnya

Oleh karena itu bicara tanggul ini juga dalam pemerintahan itu di bagi-bagi kalau yang namanya sungai yang melintasi daerah dan provinsi itu termasuk bone dan sungai bolango itu dan tamalate itu kewenangan dari balai sungai atau kementerian tetapi pemerintah kota gorontalo tidak pernah kalau banjir selalu berupaya bagaimana apa yang harus di lakukan, artinya secara psikologis kami juga peduli dengan mereka,”tutupnya (Imran Husain)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here