Percakapan Najwah Sihab dengan Yasona Laoly

Najwa Shihab

Setelah Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly, mengeluarkan keputusan akan membebaskan tahan di lembaga pemasyarakatan terkait wabah covid-19, tentu menuai kontroversi.

Kontroversinya, tentu bukan pada napi yang telah menjalani masa kutingan mencapai 2/3,  bagi napi kasus pidana umum.

Yang menuai polemik, justru pada tahanan koruptor yang telah menjalani masa tahanan 2/3, akan mendapatkan kebebasan, adanya wabah covid-19 ini.

Publik pun bereaksi, atas keputusan Yasona Laoly, yang dianggap memanfaatkan situasi ini, untuk memberikan kebebasan kepada para koruptor.

Najwah Shihah salah satu dari sekian banyak orang yang geram dengan sikap Mentri Hukum dan HAM ini, ia tak setuju dengan sikap Mentri ini, Najwah pun membuat tulisan melalui tweet diakun pribadinya, dan menyatakan kritikanya atas kebijakan pemerintah dalam memberikan kebebasan kepada napi koruptor, yang memberikan kesan ke publik alasannya  mengada-ada.

BACA JUGA :  Dari Ajang Olimpiade Tokyo 2020: Eko Yuli dan Windy Cantika Jaga Tradisi Medali Olimpiade

Kritikan Njwah tersebut, rupanya ditanggapi serius, oleh Menteri Hukum dan HAM Yasona Laoly, dengan mengirim pesan kepada dinrinya agar tak membuat perbyataan provoksasi dimasyarakat, terkait  kebijakan pemrintah dalam hal ini memberikan kebebasan kepada napi koruptor.

Berikut percakapan antara Najwah Shihab dan Yasona Laoly, yang diposting melalui akun Instagram milik Najwah Shihab, yang direkam sehingga menjadi dalam bentuk rekaman video :

 

Ini alasan Najwah Shihab, bahwa kalau over kapasitas tahanan, maka tak pantas diberikan kepada napi koruptor, ini penjelasan Najwa Shihab melalui akun Instagramnya :

View this post on Instagram

Menteri Hukum dan HAM, Yasonna Laoly berencana membebaskan napi termasuk napi koruptor karena corona. Alasan utamanya, lapas yang kelebihan kapasitas akan membuat penyebaran virus ini tidak terkendali dan jika satu tertular akan membahayakan semua. Secara prinsip alasan ini sangat bisa diterima. Kondisi lapas kita memang tidak manusiawi, orang bertumpuk seperti pindang, bahkan tidur bergantian. Tapi alasan ini menjadi mengada-ada ketika kita bicara soal napi koruptor. Sel bagi koruptor berbeda dengan tahanan lain. Di Lapas Sukamiskin misalnya, satu napi satu kamar. Lengkap dengan fasilitas pula. Alih-alih berdesak-desakan dengan napi lain sehingga bisa tertular corona, para koruptor di Sukamiskin bahkan ada yg bisa mandi air panas di kamar mandi pribadi dan olahraga dgn alat khusus di dalam sel eksklusif mereka. Dari hampir 250 ribu napi di seluruh negeri, napi korupsi jumlahnya 4500-an. Jadi sekitar 1, 8 persen dari total napi. Pembebasan napi koruptor dgn tujuan menghambat penyebaran covid 19 di Lapas menjadi tidak relevan, krn angkanya sangat kecil dibanding napi lain. Menjadi wajar jika sejumlah pegiat antikorupsi curiga kebijakan membebaskan napi koruptor ini hanyalah akal2an saja. Sdh beberapa kali Kementerian Hukum dan HAM berupaya utk meringankan hukuman koruptor lewat revisi peraturan perundangan. Jadi Pak Menteri yang terhormat, supaya kita tidak curiga macam-macam, coba dibuka dulu ke publik, narapidana kasus korupsi apa dan di mana yang menempati sel berdesak-desakan seperti napi umum pencuri ayam yang bahkan tidurnya harus bergantian? Oh ya, sekalian kalau memang mau cek lapas koruptor, titip cek lagi sel Papa Setya Novanto dan kawan-kawannya di Sukamiskin, masih di sel lagi nonton Netflix atau lagi plesiran makan di warung Padang? #CatatanNajwa

A post shared by Najwa Shihab (@najwashihab) on

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here