Pantaskah Kita Merayakan Kemenangan

Oleh: Anton Panton

Ketua DPD PKS Bone Bolango

ꢀꢁأ اﷲ ،ꢀꢁأ اﷲ ،ꢀꢁأ اﷲ
.
ꢀꢁأ اﷲ ،ꢀꢁأ اﷲ ،ꢀꢁأ اﷲ

ꢁأ اﷲ ،ꢀꢁأ اﷲ ،ꢀꢁأ اﷲ
،دهحو اﷲ إﻻ ꢆﻵإ ،وأصيﻼ رةꢇب اﷲ ناوسبح ،اꢂكث ꢄ مدꢅوا ،اꢂكب ꢀꢁأ اﷲ
دهحو بزاحاﻷ مزهو ،دهنج وأعز ،بدهꢈ ꢉنو ،وعده صدق
كره وꢊو ،نوꢑꢒمꢊا كره وꢊو ،فرونꢋال كره وꢊو نꢌꢍا ꢆ ꢎلصꢏ هياإ إﻻ بدعꢐ وﻻ اﷲ إﻻ ꢆﻵإ
نقوفنامꢊا
ꢎخلصمꢊا اميقوال امصي رهشꢊا هب موخت ꢎنممﺆꢊا ةادعب ل يداꢈ ومꢕا ذاه لعج ꢔا ꢄ مدꢅا
هيفوص ،ꢆوسرو بدهꢈ مداꢖ انسيد أن دهشوأ ،ꢆ كꢗꢘ ﻻ دهحو اﷲ إﻻ ꢆإ ﻻ أن دهشوأ

.
.
،
.
نيꢍا يوم ꢛإ هجهꢐ ꢜ ارس نمو ꢆآ ꢜو هيلع اﷲ ꢝصف ،هليلوخ
:
زꢗزعال هابكت ꢟ ꢛعاꢠو كاربت اﷲ لقوꢌ .اﷲ ىقوتب ꢡفꢐو مꢇأوصي ،اﷲ ادعب ايꢢ : دعꢞ امأ
((نومسلꢣ متꢐوأ إﻻ نꢠومꢠ وﻻ هقاتꢠ قح ꢄا اقوꢠا انومآ نيꢔا اهꢌأ يا))
Ma’asyiral Muslimin Rakhimakumullah
Bertaqwalah sebab Allah Mewasiatkan sebaik-baik bekal yang akan dibawa pulang menghadapNYA hanyalah Taqwa, karena yang berguna saat diakhirat nanti hanyalah Ketaqwaan dan Amal Sholeh.

Maka untuk itu harapan Allah bagi kita setelah sebulan Puasa adalah menjadi hamba-hambaNYA yang Muttaqin.
Jama’ah Sholat Id yang bersimpuh dihadapan Allah Riuhnya Gema Suara Takbir, Tahmid & Tahlil membahana dari sejak semalam,
Lantunannya mengguncang Alam semesta, Seakan tak pantas kalimat lain terdengar selain Alunannya, menandakan bahwa tak ada yang pantas dibesarkan, tak ada yang
pantas dipuji, tak ada yang pantas diagungkan Kecuali Allah satu-satunya Rabb seru sekalian Alam. Takbir yang Merdu Terdengar, Tahmid Yang Syahdu dilantunkan, serta Tahlil yang Khusuyuk terus mendayu menjadi sebuah pertanda bahwa Nikmat sepotong Surga yang Allah hidangkan telah berlalu, menjadi Alamat bahwa Ramadhan yang berkah
kini menjauh, menjadi Isyarat akan sebuah Anugerah yang penuh dengan Rahmat, Berkah dan AmpunanNYA Allah telah bepisah membawa sendu dan pilu.
Alangkah indah alunan Takbir, Tahmid dan Tahlil yang terus bergema dan berkumandang di pagi ini. Ungkapan rasa syukur menghiasi hati dan lisan kita, atas karunia usia dan umur panjang untuk berjumpa kembali dengan hari yang mulia ini. Di hari ini, saat kita
mengumandangkan Takbir, Tahmid dan Tahlil di seluruh penjuru jagad raya, saat kita merayakan hari kemenangan dengan penuh kebahagiaan, di saat ini pula kita perlu bercermin dan mengevaluasi diri, apa yang telah berubah dari kita antara sebelum
datangnya dan setelah perginya Bulan Ramadhan. Jika sebelum Ramadhan kita enggan kemasjid, malas baca qur’an, jarang bersedekah, gak pernah Sholat malam, tak berbakti kepada orang tua, lalu dengan datangnya Ramadhan yang telah membentuk kita menjadi Manusia yang bebeda dari sebelumnya menjadi orang yang hatinya senantiasa terpaut
dengan Masjid, Menjadi Haamilul Qur’an, menjadi Muzakki, Munfiq dan Mushoddiq, menjadi Ahlul Qiyaam, serta menjadi Anak yang berbhakti pada orang tuanya. Akankah itu kembali berubah seiring berlalunya Ramadhan? Atau bisa jadi kedatangan
Ramadhan kesekian kalinya ini juga tak memberikan efek perubahan pada diri kita masing-masing? Jika dengan Ramadhan yang situasi, kondisi dan lingkungannya saja tidak memberikan perubahan pada kita, lantas bagaimana nantinya kita berada diluar Ramadhan? Butuh berapa Ramadhan lagi agar membuat kita sadar akan rapuhnya
pertahanan kita membentengi diri dari godaan Syetan serta tipuan fatamorgana Dunia.

مدꢀꢁا وﷲ ꢂꢃاك اﷲ ꢂꢃاك اﷲ ꢂꢃاك اﷲ
Jika Ramadhan saja tidak bisa membantu kita merubah diri, jika puasa saja tak juga bisa
berefek kebaikan pada kita, jika nikmat sepotong Surga yang Allah hidangkan ini enggan kita rengkuh kenikmatannya,Apa Pantaskah kita merayakan kemenangan hari ini? Sudah berulang kali Ramadhan datang menjumpai kita, namun kita masih terus menyiakannya, Ibnu Al Jauzi menyampaikan jika seandainya penghuni kubur itu diperintahkan berharap, maka mereka akan berharap sehari saja bisa hidup kembali dibulan Ramadhan, Apakah nanti kita sudah diliang kubur barulah memiliki harapan untuk bisa bertemu kembali Ramadhan? Akankah kita lupa sudah Ramadhan yang keberapa kali datang tanpa kita
berusaha melakukan perubahan?
Kaum Muslimin Jama’ah Id Rahimakumullah Allah yang Menciptakan Hati, Allah yang membolak-balikkan hati, Serta Allah Pula yang telah menggerakkan hati kita diawal Ramadhan hingga Terpaut Kemasjid, Terikat dengan Al Qur’an, Terjaga Sholatnya.

BACA JUGA :  Hikmah Qurban dalam Perspektif Antropologi Gorontalo

Allah Menghadirkan Ramadhan sebagai Magnet momentum merubah diri dari Hamba yang merugi menjadi Hamba yang senantiasa Ta’at berbakti PadaNYA, Akankah dengan berlalunya Ramadhan kita akan kembali menjauh dari Allah? Enggan datang Kemasjid? Malas Membuka Al Qur’an? Lalai terhadap Sholat? Lalu jika seperti itu kondisi kita setelah Ramadhan pergi, Masih Pantaskah kita merayakan
kemenagan?

Jika Idul Fitri hari ini kita rayakan sebagai kebebasan untuk melakukan segala sesuatu sesuai kemauan dan keinginan kita, kembali bergelimang maksiat dan dosa, kembali mengumbar Aib sesama, kembali menjadi manusia yang rakus dan serakah, kembali
menjadi makhluq yang hanya mementingkan diri sendiri dan tak peduli dengan sesama, jika Ramadhan yang baru saja berlalu kemarin itu tak juga membuat kita terpaut kemasjid,
Jika Puasa kemarin belum bisa melembutkan hati kita hingga tersentuh mengulurkan tangan untuk sesama, Jika Bulan Mulia itu juga belum membuat kita Istiqomah menjaga Sholat dekat dengan Al Qur’an, maka Pantaskah Kita Merayakan Kemenangan hari ini?
Segeralah bertobat kepada Allah!





ۙ
ꢄꢅلمتقꢆ تدꢇاۙرضꢈꢉوا وتسملا اهرضع وجنة كمرب نم رةغفم ꢊꢋا اورعساو ۞
Bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga (yang) luasnya (seperti) langit
dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa,
Jama’ah Yang dimuliakan Allah Kalau dulu kita pernah terlanjur melakukan keburukan dan pelanggaran, maka sungguh
hari ini adalah hari pertaubatan. Hari ini adalah waktu yang tepat berhenti dari kebiasaan
buruk dan terlarang. Hari ini adalah hari untuk kembali kepada fitrah kita yang sejati. Hari ini adalah saat memulai hidup dengan penuh ketaqwaan kepada Allah.



ۗ
اﷲ ꢈꢉا وبﻧꢎꢏا رﻳغف نموۗꢑꢒꢓوﻧꢎꢏ وارتغفاسﻓ اﷲ وارذك ماﻧفسه اوﻇلم او ﺣﺸةاﻓ اوﻓﻌل اذا ꢌꢍꢎꢏوا
نوﻳﻌلم موﻫ اوﻓﻌل ام ꢖꢗꢇ واꢔꢕﻳ لمو
Demikian (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi
diri sendiri, mereka (segera) mengingat Allah lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya. Siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Mereka pun tidak
meneruskan apa yang mereka kerjakan (perbuatan dosa itu) sedangkan mereka
mengetahui(-nya). Hari ini kita bersihkan diri dari berbagai silang sengketa. Hari ini kita beranikan diri untuk memohon maaf atas kesalahan yang mungkin sudah tertimbun sejak beberapa tahun silam. Hari ini kita berusaha membuka pintu hati kita menerima permohonan maaf.
الحمد وﷲ اكبر اﷲ اكبر اﷲ اكبر اﷲ
Tegakah kita, sampai hatikah kita, tidak malukah kita dihadapan Allah dipagi ini, kita memakai pakaian baru, bergembira dengan hari raya, merayakan hari kemenangan, sementara puasa kita hanya sekedar menahan lapar dan haus saja, bahkan ada yang Puasanya hanya beberapa hari saja dan ada yang sama sekali tidak Puasa selama Ramadhan, Sholat kita banyak yang bolong, baca’an Qur’an kita hanya sebentar, Infaq,
sedekah dan Zakat kita tak juga tertunaikan, Pantaskah Kita merayakan kemenangan?
Ramadhan kini telah berlalu, tahun depan pasti ia akan kembali datang, namun akankah kita dapat kembali berjumpa dengannya? Masihkah Allah memberikan kita kesempatan untuk merengkuh nikmatnya? Karena kematian pasti akan datang menjemput. Dengan berakhirnya Ramadhan menjadikan kita semakin menyadari bahwa hidup ini sementara, dan Akan Pulang kenegeri Akhirat.

BACA JUGA :  Hikmah Qurban dalam Perspektif Antropologi Gorontalo

Jama’ah Sholat Id Rahimakumullah
Dihari yang fitri ini saat kita makan enak, menikmati hidangan beraneka ragam, ada anak yatim yang merakan Idul Fitri tanpa hidangan makanan, Saat Anak-anak kita bergembira
dengan Baju Baru pemberian Ayah, Sepatu baru yang dibeli ibu, mereka hanya bisa menatap dengan iri dan pilu, mereka mecoba memanggil Ayah tapi tak pernah lagi terjawab, mereka memanggil ibu tapi tak ada lagi yang menyahut. Ketika dipagi hari raya
Rasulullah SAW tengah menyeru ummat Islam untuk berhari raya, Beliau melihat seorang anak perempuan yang tengah menangis dibawah sepohon kurma, lantas Nabi bertanya :
kenapa engkau menangis wahai anakku? Apakah Bapakmu sudah tiada? Anak itu
menjawab : Bapakku telah lama meninggal, Apakah tidak ada baju baru pemberian
ibumu? Lalu di jawab : Ibuku telah lama wafat, mendengar jawabannya Rasulullah langsung menangis dan memeluknya, lantas Nabi membawanya pulang dan menyuruh Syaidatuna A’isyah untuk memandikannya dan memakaikan pakaian terbaik untuknya, lalu Rasulullah memberikannya Uang.
Nabi ingin menyampaikan kepada kita Anak yatim adalah tanggung jawab kita bersama, jika kita hanya memperdulikan diri dan keluarga kita saja, Masih pantaskah kita
merayakan kemenangan ditengah tangis pilu anak-anak yatim itu? Jangan biarkan mereka tenggelam dalam kesedihannya, jangan biarkan mereka terombang-ambing dalam lautan air mata, uluran tangan kita, santunan yang kita serahkan kepada anakyatim tidaklah seberapa, jika mereka boleh diberikan pilihan antara mendapatkan uang yang kita berikan hari ini dengan Allah menghidupkan kembali orang tuanya, maka mereka akan memilih kehidupan orang tuanya, apalagi mereka yang masih sangat kecil, mereka masih butuh kasih sayang orang tuanya, mereka masih menginginkan pelukan ibunya, mereka rindu ayah yang mengusap kepalanya. Sedekah yang kita berikan untuk mereka takkan bisa menghapus rasa sedihnya ditinggalkan orang tua, bahagiakan
mereka sebab Nabi berjanji :

ﱠ ﱠ
ꢖꢘلوسوا بةابسالب كꢆام راوأش نةꢙꢁا ꢚꢛ ꢄꢅتاكهووﻫ اأﻧ هꢂꢅغل أو ꢜꢏ متيꢝلا لﻓꢞꢟ

BACA JUGA :  Hikmah Qurban dalam Perspektif Antropologi Gorontalo

“Orang yang menanggung (mengasuh) anak yatim miliknya atau milik orang lain, aku dan dia seperti dua jari ini di surga.” Malik (perowi hadits) mengisyaratkan jari telunjuk
dan jari tengah.” (HR. Muslim)

الحمد وﷲ اكبر اﷲ اكبر اﷲ اكبر اﷲ

Dipagi hari yang Mulia ini marilah sejenak melayangkan pandangan kita kepada orang yang sangat besar jasanya dalam kehidupan kita, bisa saja hari ini wajahnya tak bisa lagi kita tatap, mungkin hari ini senyumnya hanya ada dipelipis mata kita, masih terbayang dalam ingatan kita, ketika masih kecil dimandikannya kita, disisirnya rambut kita, dipakaikan baju terbaru untuk kita, diusapnya kepala kita, diciumnya pipi kita, dipegang erat tangan kita menuju masjid, namun semuanya itu tinggallah kenangan, mereka semuanya telah berpulang kerahmatullah. Dulu saat Pulang Sholat kita bisa cium tangan mereka, waktu itu kita bisa memeluk tubuhnya yang menua dan rapuh, namun hari ini mereka telah tiada., Tegakah kita hari ini tidak mendo’akan mereka? Kirimkan Do’a untuk mereka, walaupun seisi dunia ini kita persembahkan untuk mereka tidak akan bisa menebus buliran Air mata mereka saat mendo’akan kita, Dunia dan isinya kita berikan kepada mereka takkan dapat menukar satu hentakan Nafas Ibu saat melahirkan kita, Harta yang kita miliki takkan bisa membalas setetes air susu yang kita minum, kekayaan yang kita punya takkan bisa menukar rasa kantuk dimalam hari saat mereka menyapih kita, bahkan pengabdian kita seumur hidup sekalipun takkan bisa mendinginkan air kencing kita yang membasahi tubuhnya saat kita duduk dipangkuannya.
Bersimpuhlah dihadapan Orang tua kita yang masih hidup mintalah maaf dan ampunan mereka, memohonlah keberkahan dengan Do’a mereka, Surga itu ada pada mereka, hari ini ada orang mampu sholat berjama’ah, sanggup baca Qur’an 1 Juz 1 hari, Sanggup Infaq & Shodaqoh, sanggup buat kegiatan sosial dan keagamaan, tapi hubungan dengan orang tuanya renggang, dia sudah lama tak menengok orang tuanya, dia sudah lama tak menelpon menanyakan kabar Ayah Ibunya, sekalipun amalnya setinggi langit, ibadahnya sebesar gunung, namun saat hubungannya dengan orang tua tidak baik maka amal ibadah itu tertolak,

نةﱠꢙꢁا هꢠꢡꢢﻳد مﻓل ادﻫمꢣأ أو هعند ꢂꢃكꢆا هﻳوأب كردأ نمل بﻌد

“Sangat rugi orang yang masih bertemu dengan kedua orang tuanya atau salah
satunya. Namun orang itu tidak masuk surga.”

Di hari yang penuh kemenangan ini, mari kita mohon ampun kepada Allah, kita saling bermaaf-maafan dan bersalam-salaman dengan penuh ketulusan dengan sesama. Kita hapuskan segala kebencian, kita punahkan segala dendam dan angkara murka, kita songsong kehidupan baru dalam tautan persaudaraan dan kebersamaan.