Berawal Dari Lubang Tambang, Mengakibatkan Dua Siswa SMP Tumbang

KALTIM– (MEDGO.ID) Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) mengatakan dua anak di bawah umur kembali menjadi korban saat berenang di lubang bekas tambang, Desa Krayan Makmur Kecamatan Long Ikis, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, pada Minggu (06/09/2020).

Berdasarkan catatan JATAM, sejak 2011 hingga 2020 total 39 orang menjadi korban lubang bekas tambang.

“Korban jiwa kali ini dialami MRS (15) dan MAPS (14) dua remaja yang saat itu bersama dengan empat rekannya berwisata ke Desa Krayan Makmur,” kata Koordinator JATAM Nasional, Merah Johansyah (Yang dilansir dari CNNIndonesia.com).

Merah menyebut peristiwa tersebut itu terjadi di sekitar tempat rekreasi Danau Biru, wilayah Kabupaten Paser. Ketika itu, dua siswa SMP berinisial MRS dan MAPS bersama dengan tiga teman lainnya hendak berwisata.

Sekitar pukul 15.00 Wita, kedua korban berenang dan mencoba untuk mengambil sebuah rakit di danau tersebut untuk di bawa ke pinggir. Rakit yang hendak diambil kedua korban berada di tengah danau.

Beberapa saat kemudian, dua orang teman korban menghampiri rakit tersebut. Namun, saat di tengah jalan, salah seorang teman korban kehabisan nafas dan kelelahan.

“MRS, MAPS dan MI mencoba menolong tanpa alat pelampung. Sehingga terjadi tarik menarik, MRS dan MAPS tenggelam dan tidak tertolong,” ujar Merah.

Kedua korban, MRS dan MAPS baru berhasil ditemukan oleh tim gabungan sekitar pukul 17.30 Wita.

Sementara itu, berdasarkan keterangan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Paser,  dua korban tewas itu merupakan pelajar SMPN 1 Tanah Grogot.

Hal itu disampaikan langsung oleh Kepala Dinas pemuda Olah Raga dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Paser, Yusuf Sumako yang mengatakan lubang bekas tambang yang disebut Danau Biru itu tak masuk dalam destinasi wisata di Kabupaten Paser.

“Kami klarifikasi danau biru itu adalah eks tambang batu bara, saya belum tahu perusahaannya apa. Dan eks tambang itu belum juga masuk objek pariwisata unggulan kami,” kata Yusuf (Dilansir dari CNNIndonesia.com).

Yusuf mengatakan awalnya ada masyarakat yang mengunggah ke media sosial keberadaan lubang bekas tambang itu. Mereka menyebut objek wisata paling menarik itu sebagai Danau Biru.

“Setahu kami kalau eks tambang itu tidak boleh orang berenang. Eks tambang itu siapapun berenang pasti tenggelam. Karena ada unsur logam. Airnya di bawah berputar,” ujarnya.

Yusuf menyebut semua objek wisata dalam koordinasi pihaknya juga masih di tutup selama pandemi virus corona (Covid-19). Ia juga  memastikan tak ada hubungan pihaknya dengan bekas lubang tambang tersebut.

Sementara itu, Koordinator JATAM Kaltim, Pradarma Rupang mengatakan kolam yang dikenal masyarakat sebagai ‘Danau Biru’ itu merupakan lubang tambang peninggalan PT Sarana Daya Hutama (SDH) yang Izin Usaha Pertambangan (IUP) mulai 2011 dan berakhir pada 2016 lalu.

Pradarma mengatakan peristiwa nahas ini kembali terjadi bukan hanya karena pembiaran oleh perusahaan tambang namun juga peran Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) serta anggota DPR.

“Mereka menerbitkan sejumlah peraturan yang membenarkan lubang-lubang tambang maut bebas ditinggalkan tanpa menutupnya dengan merubah peruntukan lain,” pungkas Pradarma.

Sampai saat ini belum ada info dari kepolisian terkait insiden tersebut, dan juga belum merespon konfirmasi mengenai bekas lubang tambang tersebut. (Ubay)