Gorobtalo, Medgo.ID — Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Gorontalo menegaskan adanya perbaikan Indeks Potensi Radikalisme (IPR) Gorontalo pada 2025 sekaligus pentingnya penguatan pencegahan radikalisme dan terorisme yang berbasis data, kolaborasi lintas sektor, serta ketahanan sosial masyarakat.
Dalam pemaparannya, Dikson menjelaskan perkembangan hasil riset Indeks Potensi Radikalisme Gorontalo dalam tiga tahun terakhir. Data tersebut menjadi salah satu instrumen untuk membaca perkembangan kondisi masyarakat sekaligus menentukan aspek-aspek yang masih perlu mendapat perhatian dalam agenda pencegahan.
Hasil pengukuran menunjukkan skor IPR Gorontalo berada pada 10,6 pada 2023, meningkat menjadi 11,6 pada 2024, kemudian turun menjadi 8,8 pada 2025. Karena skor IPR yang lebih rendah menunjukkan kondisi yang lebih baik, angka 8,8 menempatkan 2025 sebagai posisi terbaik dalam periode pengamatan 2023–2025.
Perbaikan tersebut juga berlangsung pada seluruh dimensi yang membentuk IPR. Skor dimensi pemahaman turun dari 12,9 pada 2024 menjadi 8,2 pada 2025, dimensi sikap turun dari 20,0 menjadi 17,8, sedangkan dimensi tindakan turun dari 1,8 menjadi 0,3.
Dengan demikian, perubahan pada 2025 tidak hanya terlihat pada skor IPR secara keseluruhan, tetapi berlangsung secara bersamaan pada dimensi pemahaman, sikap, dan tindakan.
Dikson menjelaskan bahwa perubahan terbesar secara absolut terjadi pada dimensi pemahaman, yang membaik sebesar 4,7 poin dibandingkan 2024. Sementara itu, dimensi sikap membaik 2,2 poin dan dimensi tindakan membaik 1,5 poin.
Secara keseluruhan, perkembangan tersebut menunjukkan adanya perbaikan hasil pada tingkat masyarakat yang berkaitan dengan pencegahan radikalisme di Gorontalo pada 2025, setelah skor IPR mengalami kenaikan pada 2024.
Meski demikian, dimensi sikap masih menjadi komponen dengan skor paling tinggi, yakni 17,8, dibandingkan dimensi pemahaman sebesar 8,2 dan tindakan sebesar 0,3. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa agenda pencegahan ke depan perlu tetap memberikan perhatian pada penguatan toleransi, penerimaan terhadap perbedaan, relasi sosial antarkelompok, serta pembentukan sikap sosial yang inklusif.
Dalam konteks tersebut, pencegahan tidak cukup hanya diarahkan pada peningkatan pengetahuan, tetapi juga pada bagaimana nilai kebangsaan, moderasi, antikekerasan, dan penghormatan terhadap keragaman diterjemahkan dalam kehidupan sosial sehari-hari.
Perbaikan IPR Menjadi Modal Konsolidasi
Secara terpisah, Ketua FKPT Provinsi Gorontalo, Dr. Funco Tanipu, S.T., M.A., menilai hasil IPR 2025 merupakan perkembangan positif yang perlu dijadikan modal untuk memperkuat sistem pencegahan berbasis bukti.
Menurut Funco, penurunan skor IPR tidak cukup dibaca hanya sebagai perubahan angka agregat. Data tersebut perlu dianalisis sampai pada perubahan masing-masing dimensi agar kebijakan pencegahan dapat disusun secara lebih presisi.
Ia menilai bahwa capaian 2025 menunjukkan pentingnya mempertahankan kerja pencegahan yang bersifat multidimensional. Pencegahan radikalisme tidak hanya berkaitan dengan pengetahuan dan pemahaman masyarakat, tetapi juga menyangkut sikap sosial, relasi antarkelompok, ketahanan keluarga dan komunitas, serta kemampuan masyarakat mencegah berkembangnya kecenderungan tindakan yang bertentangan dengan prinsip kehidupan damai dan kebangsaan.
Funco juga menekankan bahwa perbaikan IPR harus ditempatkan dalam kerangka kerja ekosistem. IPR merupakan hasil pada tingkat masyarakat yang dipengaruhi oleh berbagai faktor dan aktor. Karena itu, perkembangan positif tersebut tidak semestinya diatribusikan kepada satu program atau satu lembaga secara tunggal.
FKPT juga menegaskan bahwa perubahan IPR dapat dipengaruhi oleh berbagai kebijakan dan aktor sehingga data yang tersedia belum cukup untuk menyatakan bahwa seluruh perubahan disebabkan oleh satu institusi.
Perubahan Harus Dibaca Secara Multidimensional
Kepala Bidang Penelitian FKPT Provinsi Gorontalo, Dr. Hasan Panigoro, M.Si., menilai bahwa seri IPR 2023–2025 memberikan dasar yang semakin baik untuk membaca perkembangan potensi radikalisme secara kuantitatif dan multidimensional.
Menurut Hasan, salah satu pelajaran penting dari data tiga tahun tersebut adalah bahwa dimensi pemahaman, sikap, dan tindakan tidak selalu mengalami perubahan dalam besaran yang sama. Pada 2025, ketiga dimensi memang sama-sama menunjukkan perbaikan dibandingkan 2024, tetapi perbaikan terbesar terjadi pada dimensi pemahaman. Hal tersebut menunjukkan pentingnya tidak berhenti pada pembacaan skor total.
Analisis pada tingkat dimensi memungkinkan hasil penelitian digunakan untuk mengetahui area yang mengalami perubahan paling cepat sekaligus mengidentifikasi bagian yang masih membutuhkan penguatan.
Hasan juga menekankan pentingnya konsistensi metodologi pengukuran pada tahun-tahun berikutnya. Keseragaman instrumen, populasi sasaran, metode pengambilan sampel, dan prosedur penghitungan indeks diperlukan agar perbandingan antarwaktu semakin kuat secara ilmiah.
Pencegahan Berbasis Riset dan Ketahanan Sosial
Bagi FKPT Gorontalo, hasil IPR 2025 menjadi bagian penting dalam mendorong perubahan paradigma pencegahan dari pendekatan yang hanya berorientasi pada pelaksanaan kegiatan menuju pencegahan yang semakin berbasis data dan hasil penelitian.
Data diperlukan untuk menentukan prioritas, memahami perubahan kondisi masyarakat, serta merancang pendekatan yang sesuai dengan karakter persoalan yang ditemukan.
Pada saat yang sama, ketahanan sosial ditempatkan sebagai fondasi penting dalam pencegahan. Keluarga, lembaga pendidikan, tokoh agama, organisasi masyarakat, komunitas, perguruan tinggi, pemerintah daerah, aparat keamanan, dan media merupakan bagian dari ekosistem yang saling berhubungan dalam membangun daya tahan masyarakat terhadap intoleransi, radikalisme, dan ekstremisme kekerasan.
Karena itu, hasil pengukuran IPR tidak hanya menjadi instrumen evaluasi, tetapi juga dapat digunakan sebagai dasar untuk memperkuat koordinasi, memperbaiki desain program, meningkatkan kualitas literasi masyarakat, dan membangun intervensi yang lebih terarah.
Hasil riset menunjukkan bahwa 2025 merupakan posisi terbaik IPR Gorontalo dalam periode 2023–2025. Skor total turun menjadi 8,8, sementara seluruh dimensi mengalami perbaikan dibandingkan tahun sebelumnya.
Pemahaman mengalami perubahan terbesar, sikap mencapai nilai terendah dalam seri tiga tahun, sedangkan tindakan kembali berada pada tingkat yang sangat rendah setelah mengalami peningkatan pada 2024.
Bagi FKPT Gorontalo, perkembangan tersebut menjadi modal positif sekaligus dasar untuk terus memperkuat kualitas pencegahan.
Hasil riset perlu dipertahankan sebagai basis pengambilan keputusan, sementara kerja pencegahan perlu terus dikembangkan secara kolaboratif, multidimensional, dan berorientasi pada penguatan ketahanan sosial masyarakat.
Hasil indeks yang dirilis FKPT tersebut sekaligus memperkuat posisi riset dan data sebagai salah satu landasan penting dalam koordinasi pencegahan radikalisme dan terorisme di daerah, sehingga setiap langkah yang dilakukan dapat semakin terukur, relevan dengan perkembangan masyarakat, dan berkelanjutan.(*)













