BONE BOLANGO, MEDGO.ID – Tongkol jagung yang selama ini identik dengan sisa hasil panen kini mendapat nilai guna baru. Di tangan dosen Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Negeri Gorontalo (UNG), limbah pertanian tersebut diolah menjadi eco-cooler, modul ventilasi alami yang dirancang untuk membantu menciptakan ruang lebih sejuk tanpa menggunakan listrik.
Inovasi tersebut diperkenalkan kepada masyarakat Desa Bongopini, Kecamatan Tilongkabila, Kabupaten Bone Bolango, melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat yang dilaksanakan tim dosen Arsitektur FT UNG.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya UNG mendorong hilirisasi hasil penelitian. Inovasi yang sebelumnya dikembangkan melalui riset tidak berhenti sebagai temuan akademik, tetapi dibawa langsung ke masyarakat agar dapat dipahami, dipraktikkan, sekaligus dikembangkan sesuai potensi lokal.
Eco-cooler dibuat dari campuran semen, pasir, dan limbah tongkol jagung. Modul tersebut tersedia dalam ukuran 20×20 sentimeter dan 30×30 sentimeter, sehingga memiliki bentuk yang serupa dengan roster yang lazim digunakan sebagai elemen ventilasi bangunan.
Keunggulan lainnya terletak pada cara kerjanya. Eco-cooler tidak membutuhkan listrik maupun perangkat mekanis. Modul memanfaatkan pergerakan udara alami yang melewati ventilasi untuk membantu menurunkan suhu ruang.
Hasil pengujian tim peneliti menunjukkan, penggunaan eco-cooler mampu menurunkan suhu ruang dari sekitar 29°C menjadi kisaran 26,6–27,1°C.
Hasil tersebut menjadi dasar bagi tim UNG untuk membawa inovasi eco-cooler keluar dari ruang penelitian menuju lingkungan masyarakat. Dengan pendekatan tersebut, hasil riset tidak hanya berhenti pada angka pengujian, tetapi mulai diperkenalkan sebagai alternatif yang dapat diterapkan dan dikembangkan bersama masyarakat.
Ketua Tim Pengabdian, Dr. Ir. Ernawati, S.T., M.T., bersama lima dosen Arsitektur FT UNG, yakni Rahmat Firdaus Bouty, S.Ars., M.Ars.; Niniek Pratiwi, S.T., M.T.; Nurnaningsih N. Abdul, S.T., M.T.; Syafriani, S.T., M.Ars.; serta Nur Mutmainnah, S.T., M.Ars., terlibat langsung dalam proses sosialisasi kepada masyarakat.
Dalam kegiatan tersebut, masyarakat tidak hanya mendapatkan penjelasan mengenai konsep dan manfaat eco-cooler. Mereka juga diajak melihat lebih jauh bahwa material yang selama ini dianggap sebagai limbah pertanian masih memiliki peluang untuk dimanfaatkan menjadi bagian dari elemen bangunan.
Tongkol jagung menjadi contoh nyata bagaimana persoalan limbah dapat dipertemukan dengan kebutuhan konstruksi dan kenyamanan bangunan. Di satu sisi, pemanfaatannya berpotensi mengurangi sisa limbah pertanian. Di sisi lain, inovasi tersebut menawarkan pendekatan pasif untuk membantu meningkatkan kenyamanan termal di dalam bangunan.
Proses transfer pengetahuan juga melibatkan mahasiswa. Mereka turut mendemonstrasikan tahapan pembuatan modul eco-cooler di hadapan masyarakat.
Keterlibatan mahasiswa menjadi bagian penting dalam kegiatan ini. Pengetahuan tentang arsitektur dan material bangunan yang diperoleh di ruang kuliah diterapkan dalam situasi nyata, sekaligus melatih mahasiswa berinteraksi dan berbagi pengetahuan dengan masyarakat.
Tidak hanya berhenti pada demonstrasi, masyarakat Desa Bongopini juga mulai dipersiapkan untuk mengikuti tahapan pelatihan berikutnya. Mereka diarahkan mengumpulkan, menyisihkan, kemudian mengeringkan tongkol jagung yang tersisa dari hasil panen.
Tongkol jagung tersebut nantinya akan menjadi bahan praktik dalam pembuatan eco-cooler. Dengan pola ini, masyarakat diposisikan bukan sekadar sebagai penerima informasi, tetapi sebagai bagian dari proses pengembangan dan pemanfaatan inovasi.
Bagi tim UNG, eco-cooler menunjukkan bahwa material sederhana yang tersedia di sekitar masyarakat dapat memiliki nilai ekonomi dan fungsi baru ketika dipadukan dengan ilmu pengetahuan dan inovasi.
Lebih jauh, inovasi tersebut memperlihatkan bagaimana riset arsitektur dapat menjawab persoalan yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Pengetahuan tentang material, ventilasi alami, dan desain bangunan diterjemahkan menjadi solusi yang memanfaatkan potensi lokal.
Hilirisasi eco-cooler sekaligus memperkuat komitmen UNG agar hasil penelitian tidak berhenti sebagai karya akademik. Melalui pengabdian kepada masyarakat, hasil riset didorong untuk berkembang menjadi inovasi aplikatif yang dapat memberi manfaat sekaligus membuka cara pandang baru terhadap pemanfaatan limbah pertanian.
Dari tongkol jagung yang semula dianggap tak bernilai, lahir sebuah gagasan sederhana: memanfaatkan apa yang tersedia di sekitar untuk menghadirkan bangunan yang lebih nyaman dan berkelanjutan.(Adv)
