Oleh : Eka Purnama, M.Si *
Setiap hari kita dikelilingi oleh angka, mulai dari jumlah likesdan followers di media sosial, jumlah langkah kaki kita yang dihitung smartwatch, hingga trend belanja online yang direkam oleh aplikasi e-commerce. Angka-angka tersebut tidak lain adalah data yang sangat penting.
Di era digital seperti saat ini, kita punya banyak akses hampir ke semua data, dari data ekonomi, pendidikan, kesehatan, bahkan perilaku sosial. Jika data tersebut tidak dianalisis dengan tepat, maka hanya akan menjadi tumpukan angka-angka yang tidak berguna.
Dunia modern bergerak dengan kecepatan data. Masalahnya adalah, masih banyak diantara kita yang masih “alergi” dengan hal yang penting, yaitu matematika dan statistika. Padahal tanpa sadar banyak kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya menghitung uang belanja, membandingkan harga barang, membandingkan rating restorant, melihat poling calon presiden, menakar resep makanan, bahkan memutuskan untukmembawa payung atau tidak dengan memprediksi kemungkinanakan hujan. Semua itu adalah aktifitas yang berkaitan dengan matematika dan statitika.
Sejak kecil, banyak yang sudah beranggapan bahwa matematika itu sulit, membingungkan bahkan menjadi jargon yang menakutkan. Apalagi statistik, tambah sakit kepala dengan deretan angka-angka yang bikin pusing tujuh keliling. Berbeda dengan mata pelajaran yang sifatnya lebih naratif misalnyaBahasa, atau sejarah.
Tapi, coba balik cara pandang cara pandang kita sebentar. Bagaimana kalua justru matematika dan statistika adalah alatsuper dan seru yang membantu kita untuk lebih memahami dunia. Jadi matematika bukanlah musuh tetapi sahabat.
Bukan Cuma Soal Angka, Tapi Cara Berpikir
Satu kekeliruan yang sering terjadi yaitu menganggapmatematika hanya soal angka, rumus dan hitung-hitungan. Padahal yang lebih penting dari itu adalah cara berpikirnya. Matematika melatih kita menganalisis informasi, memahamipola, berpikir rasional, logis, sistematis dan kritis. Statitik juga demikian, tidak melulu soal grafik dan rata-rata. Tapi mengajarkan kita untuk tidak langsung percaya pada data mentah tapi juga memahami konteksnya, tahu cara mengolah, menganalisis, menyajikan, sampai menimpulkan secara objektif. Di era banjir informasi seperti sekarang, kemampuan ini bukanhanya berguna tapi vital.
Era Data Sains: Siapa yang Menguasai Data, Dialah yang Menang
Sekarang kita hidup di era yang disebut “data-driven word”. Hampir semua keputusan penting dibuat berdasarkan analisisdata. Mulai dari kebijakan pemerintahan, strategi bisnis, sampairekomendasi di media sosial disusun berdasarkan algoritmayang diperoleh dari data. Data itu sendiri tidak akan ada artinya jika tidak dianalisis. Kerena itu, untuk menganalisisnya dibituhkan dua ilmu yaitu matematika dan statistika.
Profensi seperti data scientist, data analyst, learning machine angineer, semuanya berakar pada ilmu matematika dan statistika. Bahkan industri kreatif juga mulai bergantung pada data. Misalnya tim marketing perusahaan mengukurkeberhasilan promosi lewat angka dan insight. Konten kreatortahu kapan waktu terbaik untuk live atau upload video berdasarkan statistic engagement.
Dengan kata lain, siapa yang bisa berteman dengan matematikadan statitika, maka dia punya supertools dan power untukmembaca trend dengan cepat, mengambil keputusan yang tepat, dan tentunya memberi solusi yang lebih hebat.
Matematika dan Statitika adalah Bahasa Dunia Baru
Bahasa Inggris mungkin dianggap penting sebagai Bahasa Internasional. Akan tetapi di era digital, matematika dan statistika adalah bahasa dunia baru dan universal. Keduanyaadalah Bahasa yang banyak digunakan search engines (mesinpencari), komputasi, aplikasi, algoritma, hingga AI yang mengatur banyak hal dalam hidup kita.
Kesimpulannya, matematika dan statistika bukanlah pelajaran yang perlu ditakutkan. Justru keduanya adalah alat yang bisa menjadikan kita lebih cerdas, kritis dan siap menghadapi tantangan dunia modern.
Tidak harus jadi professor matematika, cukup belajar dasar-dasarnya saja, kita sudah bisa melangkah lebih jauh di era data ini. Tidak harus jadi ilmuan, bahkan jurnalis, desainer, entrepreneur, atau professional di bidang lain pun sangat butuhkemampuan dasar untuk memahami dan menganalisis data.
Apalagi, belajar matematika dan statistika sekarang lebih mudah, tidak hanya lewat buku teks dan guru di sekolah. Sudahbanyak media pembelajaran yang menarik dan interaktif, mulaidari video di Youtube, aplikasi belajar matematika sampaikomunitas online yang kita bisa diskusi dengan orang di seluruhdunia.
Ayo, kita mulai dari sekarang. Belajar matematika bukan tentang jadi pintar, tapi tentang memberdayakan diri sendiri. Dan siapa bilang belajar itu harus membosankan? Yuk, kita buktikan bersama![]
*) Akademisi IAIN Sultan Amai Gorontalo.
