Banner IDwebhost
Banner IDwebhost
banner 250x250
Opini  

Palestina Belum Merdeka, Perjuangan Tak Boleh Berhenti

Foto Ini menggambarkan perjuangan rakyat Palestina, Gaza, dalam mendapatkan memakanan, nyawa menjadi taruhan, karena israel menembak saat warga Gaza berusaha mengambil bahan makanan.

Oleh: Cika Kintan Maharani, S.S.

Pada Kamis, 10 Juli 2025, dunia kembali menyaksikan babak kelam dalam sejarah kemanusiaan di Jalur Gaza. Sedikitnya 15 warga sipil, termasuk 10 anak-anak, dilaporkan tewas dalam serangan militer Israel yang menghantam kerumunan penduduk sipil di luar posko layanan kesehatan di Gaza tengah. Serangan tersebut terjadi di wilayah Deir al-Balah, saat sejumlah keluarga sedang mengantre untuk mendapatkan bantuan gizi dan layanan kesehatan. Tragisnya, lokasi yang seharusnya menjadi tempat penyembuhan justru berubah menjadi ladang kematian. (tirto.id)

Website Murah dan Domain

Peristiwa ini bukan insiden tunggal. Ia merupakan bagian dari rangkaian panjang kekerasan sistematis yang ditimpakan kepada rakyat Palestina. Hingga saat ini, krisis kemanusiaan di Gaza telah mencapai titik yang sangat memprihatinkan. Anak-anak dan perempuan menjadi kelompok paling rentan yang mengalami kekurangan gizi parah akibat blokade yang dilakukan oleh Israel dan didukung oleh Mesir. Pasokan makanan dan obat-obatan sangat terbatas, bahkan hampir tidak bisa masuk ke wilayah tersebut. Menurut laporan terbaru, jumlah korban jiwa telah meningkat menjadi 59.676 orang, sementara lebih dari 143 ribu lainnya mengalami luka-luka. (metrotv.com)

Alih-alih mendapatkan simpati internasional, suara-suara yang bersikap kritis terhadap tindakan Israel justru dibungkam. Salah satu contohnya adalah sanksi yang dijatuhkan oleh Amerika Serikat kepada Francesca Albanese, Pelapor Khusus PBB untuk hak asasi manusia di wilayah pendudukan Palestina. Albanese dikenal sebagai kritikus vokal atas agresi Israel di Gaza, dan dalam laporan terbarunya pada Juli 2025, ia menuduh lebih dari 60 perusahaan global,  termasuk produsen senjata dan perusahaan teknologi berkontribusi dalam mendukung permukiman ilegal Israel dan kampanye militer di Gaza. (tirto.id)

Kenyataan ini menggambarkan bahwa tragedi di Gaza bukan sekadar konflik militer, melainkan suatu bentuk genosida yang dilancarkan secara terang-terangan. Laporan dari berbagai sumber menunjukkan bahwa Gaza telah dijadikan tempat uji coba senjata dan berbagai strategi keji lainnya. Bantuan kemanusiaan kerap kali dijadikan alat tawar-menawar, bahkan perangkap. Zionis Israel diketahui menahan masuknya makanan untuk menciptakan kelaparan massal, dan kemudian menjadikan titik-titik distribusi bantuan sebagai sasaran serangan militer. Upaya sistematis ini mencerminkan kehendak untuk menghancurkan eksistensi rakyat Gaza secara perlahan namun pasti.

Meski Israel membantah tuduhan genosida, menyatakan bahwa serangan militer mereka merupakan bentuk pembelaan diri pasca-serangan Hamas pada Oktober 2023, kenyataan di lapangan tidak menunjukkan adanya perimbangan kekuatan. Warga sipil, anak-anak, dan perempuan menjadi korban utama dari serangan demi serangan yang menghancurkan infrastruktur dasar kehidupan di Gaza. Di tengah situasi ini, dunia internasional tampak gamang, bahkan banyak negara memilih pragmatisme ekonomi ketimbang keadilan kemanusiaan.

Sebagai contoh, kesepakatan dagang Indonesia-Amerika Serikat baru-baru ini menimbulkan pertanyaan besar. Presiden Donald Trump mengumumkan bahwa Indonesia telah berjanji membeli energi dari AS senilai US$15 miliar, produk pertanian senilai US$4,5 miliar, serta 50 unit pesawat Boeing, termasuk tipe Boeing 777. Selain itu, AS akan mendapatkan akses penuh ke pasar Indonesia yang besar. (CNBC Indonesia) Kerja sama ekonomi ini, jika tidak dibarengi dengan keberpihakan terhadap nilai-nilai kemanusiaan, akan menjadi bentuk lain dari pembiaran terhadap kezaliman yang terjadi di Palestina.

Lebih menyedihkan lagi, sebagian pemimpin negeri-negeri Muslim justru memilih menjalin hubungan mesra dengan negara penjajah, alih-alih berdiri bersama rakyat Palestina. Mereka lupa bahwa diamnya pemimpin terhadap kezaliman adalah bentuk pengkhianatan terhadap amanah umat. Sementara itu, di Amerika Serikat sendiri mulai terlihat adanya pergeseran sikap di kalangan gerakan “Make America Great Again” (MAGA) yang selama ini dikenal pro-Israel. Media Israel, Haaretz, melaporkan bahwa sebagian tokoh MAGA kini mulai terbuka terhadap kritik atas kebijakan agresif Israel di Gaza.

Di tengah gelombang simpati dan kritik tersebut, muncul pertanyaan mendasar: apakah dunia benar-benar serius mencari solusi untuk Palestina, atau hanya memperpanjang penderitaan dengan retorika dan bantuan simbolik? Banyak pihak mengutuk, tetapi sedikit yang menawarkan solusi konkret. Dan ketika solusi dikemukakan, seperti seruan untuk jihad dan penerapan sistem Khilafah, ia justru dianggap kontroversial atau bahkan ekstrem.

Padahal, jika umat Islam ingin membebaskan Palestina secara menyeluruh, maka mereka harus kembali pada akar persoalan dan metode perjuangan Rasulullah . Solusi hakiki untuk Gaza bukan sekadar gencatan senjata atau resolusi PBB yang tidak pernah ditegakkan. Umat harus membangun kesadaran umum bahwa hanya melalui jihad dan kepemimpinan Islam (khilafah), penjajahan dapat benar-benar diakhiri. Kesadaran ini tidak cukup dimiliki segelintir orang, tetapi harus menjadi arus utama pemikiran umat Islam di seluruh dunia.

Melihat kembali pada akar sejarahnya, pembebasan Palestina secara menyeluruh tidak bisa dilepaskan dari peran jihad dan sistem kepemimpinan Islam, yakni Khilafah. Tanah Palestina adalah milik umat Islam untuk selamanya bukan untuk dibagi, dirusak, apalagi dijadikan perebutan oleh kekuatan penjajah dan negara-negara besar dunia.

Penting untuk diingat bahwa pembebasan Palestina pertama kali terjadi pada masa Khalifah Umar bin Khaththab ra. sekitar tahun 637 M atau 15 H. Saat itu, pemimpin umat Kristen Ortodoks di Yerusalem, Patriark Sophronius, secara damai menyerahkan kunci Baitulmaqdis kepada Khalifah Umar. Ini menjadi bukti bahwa Islam hadir bukan sebagai penakluk yang menindas, tapi membawa perdamaian dan keadilan.

Dari sejarah ini, umat Islam perlu memahami pentingnya mewujudkan kembali entitas politik Islam dalam bentuk Khilafah Islamiyah yang meneladani metode kenabian. Jika umat bergerak bersama dalam satu visi perjuangan, maka akan lahir kesadaran kolektif dan kekuatan umat yang solid. Kesadaran umum inilah yang akan mengarahkan umat untuk terus berjuang melalui jalan dakwah, sebagaimana yang ditempuh Rasulullah .

Jalan dakwah yang beliau tempuh terdiri dari tiga tahapan utama. Pertama, tahap pembinaan yang menanamkan pemahaman Islam sebagai ideologi. Di sini, individu dibentuk dengan tsaqafah Islam dan diarahkan untuk mengamalkan ilmunya dalam kehidupan nyata. Kedua, tahap interaksi dengan masyarakat. Dalam tahap ini, Islam diperkenalkan sebagai sistem hidup yang utuh, sekaligus menghadapi tantangan dari pihak-pihak yang menolak penerapan Islam seperti penjajah, penguasa zalim, dan para penganut ideologi Barat. Ketiga, tahap penerimaan kekuasaan secara menyeluruh melalui dukungan umat, hingga lahirlah sistem pemerintahan  yang adil seperti Islam  yang dicontohkan oleh para Khalifah.

Dengan demikian, semua jalan yang menyimpang dari metode dakwah Rasulullah baik melalui aksi massa, parlemen, maupun sistem demokrasi tidak akan mampu menghadirkan kemenangan sejati bagi umat.

Mereka yang telah memahami Islam secara menyeluruh dan menjadi pengemban dakwah pun dituntut untuk waspada. Ada dua bentuk ancaman yang dapat melemahkan perjuangan dakwah: pertama, bahaya internal berupa rasa eksklusif dan merasa lebih baik dari umat; kedua, bahaya ideologis dari paham-paham asing seperti sekularisme, kapitalisme, liberalisme, pluralisme, hedonisme, feminisme, dan ideologi lainnya yang bertentangan dengan Islam.

Kedua ancaman ini harus dihindari agar umat tidak tergelincir dari jalan dakwah yang lurus. Hanya dengan kembali kepada thariqah Rasulullah , umat Islam akan menemukan arah kemenangan hakiki dan mampu membebaskan Palestina dari cengkeraman penjajah Zionis.

Thariqah dakwah Rasulullah SAW mengajarkan kesabaran, keteguhan, dan konsistensi dalam membangun opini publik dan kekuatan umat. Karena itu, umat Islam harus berhati-hati terhadap thariqah yang tidak berasal dari wahyu, seperti jalur demokrasi parlementer atau gerakan massa tanpa arah yang jelas. Para pengemban dakwah perlu waspada terhadap bahaya ideologi sekuler maupun kepentingan kelas yang menyusup dalam perjuangan, karena keduanya akan menjauhkan umat dari tujuan sejati: tegaknya Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Dengan kesadaran dan perjuangan yang terarah inilah, umat Islam akan mampu mengusir penjajah Zionis dari bumi Palestina dan mengakhiri penderitaan panjang rakyat Gaza. Bukan melalui kompromi politik yang rapuh, tapi melalui persatuan umat di bawah panji Islam.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *