Gorontalo, Medgo.ID – Edukasi kesehatan bagi anak-anak sering kali terjebak dalam metode satu arah yang monoton. Mengubah pendekatan konvensional tersebut, mahasiswa KKN Profesi Kesehatan Gorontalo menghadirkan gerakan edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yang interaktif dan menyenangkan bagi siswa di Desa Lauwonu.
Langkah ini berfokus pada pembentukan karakter dan habituasi, bukan sekadar penyerapan materi. Pemateri Anissa O.R. Pakaya menekankan bahwa kebiasaan dasar seperti cuci tangan pakai sabun dan menjaga kebersihan lingkungan harus menjadi refleks harian anak-anak, baik di sekolah maupun di rumah.
Menggunakan metode komunikasi dua arah, para siswa diajak berdiskusi aktif, menjawab tantangan, dan berbagi pengalaman. Tidak berhenti pada interaksi dengan siswa, program ini juga secara progresif melibatkan guru wali kelas dan pendamping sebagai pengawal keberlanjutan (sustainability) kebiasaan sehat tersebut.
Pendekatan kolaboratif ini membuktikan bahwa intervensi kesehatan berbasis komunitas sekolah dapat menjadi modal penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang lebih higienis, responsif, dan bebas penyakit bagi generasi mendatang.
Upaya menanamkan kebiasaan hidup bersih dan sehat sejak usia dini terus dilakukan mahasiswa, melalui kegiatan edukasi kesehatan di lingkungan sekolah. Melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Profesi Kesehatan, mahasiswa menggelar edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) bagi siswa di Desa Lauwonu, Gorontalo.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari kontribusi mahasiswa KKN Profesi Kesehatan, dalam meningkatkan pengetahuan kesehatan. Selain itu juga mendorong terbentuknya kebiasaan hidup bersih dan sehat, pada anak-anak melalui pendekatan edukatif, interaktif, dan mudah dipahami.
Materi PHBS disampaikan oleh Anissa O.R. Pakaya. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan berbagai kebiasaan sederhana yang dapat diterapkan anak-anak dalam kehidupan sehari-hari, seperti menjaga kebersihan diri, mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir, menjaga kebersihan lingkungan, serta menerapkan pola hidup sehat sebagai bagian dari upaya mencegah berbagai penyakit.
“Para siswa diajak memahami bahwa perilaku hidup bersih dan sehat bukan sekadar materi pembelajaran, melainkan kebiasaan sederhana yang perlu dilakukan secara konsisten, baik di rumah maupun di lingkungan sekolah,” ujarnya.
Penyampaian materi dilakukan dengan bahasa sederhana dan disesuaikan dengan karakteristik peserta didik. Para siswa tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga diberikan kesempatan untuk menjawab pertanyaan dan berbagi pengalaman mengenai kebiasaan menjaga kebersihan diri maupun lingkungan. Keterlibatan guru wali kelas dan guru pendamping juga menjadi bagian penting dalam mendukung keberlanjutan pesan kesehatan yang disampaikan.
“Guru diharapkan dapat terus mendampingi siswa dalam menerapkan kebiasaan hidup bersih dan sehat sehingga edukasi yang diberikan tidak berhenti pada kegiatan penyuluhan, tetapi dapat diterapkan dalam aktivitas sehari-hari,” terangnya.
Antusiasme siswa terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Mereka aktif merespons pertanyaan yang diberikan oleh moderator maupun pemateri serta terlibat dalam diskusi mengenai kebiasaan hidup bersih dan sehat. Interaksi tersebut menunjukkan bahwa edukasi kesehatan dengan metode yang komunikatif dan menyenangkan dapat menjadi salah satu pendekatan efektif untuk memperkenalkan pentingnya PHBS kepada anak-anak. (**)













