KPU RI : Penilaian  Masyarakat Keberadaan Pilkada,  Terkesan Hanya Kepentingan Politik KPU dan Pemerintah

Komisioner KPU RI Viryan Azis saat menghadiri Sosialisasi Peran Pemilih perempuan

Gorontalo, (MEDGO) – Komisioner KPU RI, Viryan Azis, menyempatkan waktu hadir di Kota Gorontalo dalam Sosialisasi Tatap Muka terkait Peran Perempuan Dalam Peningkatan Partisipasi Pemilih pada Pemilihan Bupati & Wakil Bupati Serentak, Lanjutan dalam Kondisi Bencana Nonalam Corona Virus Desease 2019 ( Covid 19 )

Dalam pidatonya Viryan mengungkapkan, Pemilu tahun lalu adalah pemilu yang sangat tidak menyenangkan karena banyak isu-isu yang tidak baik di dengar.

“Peserta terlibat dalam Pemilu 2019 kami mengucapkan terima kasih atas partisipasi dan dan keterlibatan dari teman-teman sekalian mensukseskan Pemilu 2019, pemilu yang paling berat dalam sejarah penyelenggaraan pemilu disinformasi atau hoaksnya yang paling banyak dan memberikan dampak sampai sekarang kepada kita,”ungkapnya

“Dibeberapa kesempatan tiap kali ada orang yang berpendapat pemilu 2019 hasilnya termanipulasi, hasilnya diubah-ubah oleh KPU tidak sesuai dengan suara masyarakat,” ujarnya.

“Disinformasi ini tiap kali, disinformasi ini dimungkinkan kembali lagi dan pada gilirannya akan merugikan kita semua,” lanjutnya Viryan Azis saat pidatonya di Rumah adat Kabupaten Gorontalo Bantayo Pobo’ide. Selasa (25/08)

Terkait dengan disinformasi kaitan dengan PILKADA ( Pemilihan Kepala Daerah ) kami tidak pernah bosan selalu mengatakan bahwa PILKADA ini bukanlah kepentingan pemerintah semata bukan pula KPU semata.

“KPU dan Pemerintah punya kepentingan, kepentingannya adalah menyelenggarakan untuk masyarakat, menyalurkan kedaulatannya selaku pemilik sah dalam demokrasi lokal pemilik sah daerah untuk menentukan pemimpinnya, kerap kali kepentingan masyarakat menentukan pemimpinnya itu prediksi maknanya keberadaannya seolah-olah PILKADA ini hanya kepentingan dari politik KPU dan Pemerintah”ujarnya

Terjadi dua hal disini realita sosial memang masih terdapat sejumlah persoalan dalam budaya politik kita, di sisi lain terjadi pembaiatan makna.

“Yang pertama terkait dengan budaya politik, opini yang berkembang seolah-olah partai politik tidak memperjuangkan kepentingan masyarakat partai politik hanya pada saat pemilu saja memperhatikan masyarakat, setelah pemilu kemudian seolah-olah lupa lebih memperjuangkan kepentingan pribadi dan kelompoknya,”

Hal seperti itu Viryan mengatakan, tidak bisa dipungkiri ada namun mari kita letakkan secara proposional, yang pertama saya melihat pribadi kritik terhadap partai politik tersebut rekan-rekan partai politik terkena.

“Sudah perubahan atau pergerakan terkait dengan kebiasaan masa lalu yang tidak lagi sama, yang intinya dalam konteks pilkada di masa lalu, partai politik mengusun pasangan calon tertentu tidak perlu memperhatikan suara masyarakat,”ungkapnya lagi

“Dan sekarang coba perhatikan hampir semua partai politik melakukan survey hanya mau mendukung pasangan calon yang punya nilai elektabilitas tinggi, pertanyaannya nilai elektabilitasnya itu yang menentukan siapa apakah bersifat manipulatif atau sesuai dengan hasil survey, tentu kita sama-sama tau itu sesuain dengan hasil survey, yang di survey masyarakat dengan pendekatan ilmu pengetahuan diambil sejumlah sampel yang mencerminkan kondisi sesungguhnya,”lanjutnya

Dengan demikian Komisioner menjelaskan, bisa di sebut pada saat pilkada saat-saat ini partai politik tidak semata-mata atau tidak lagi hanya mementingkan keinginannya tapi mengkonfirmasi pada awal pada masyarakat.

“Subtansinya terjadi semacam pre election, pre election itu dalam bentuk mengkonfirmasi kira-kira kami ingin mendukung pasangan ini, masyarakat bagaimana pendapatnya berapa persen yang mendukung berapa persen yang mengenal dan seterusnya,”

“Perubahan ini yang dapat saya sampaikan mudah untuk di ukur yang mudah untuk di rasa dan diketahui, kalau di masa lalu tidak.
Nah perubahan ini mencerminkan masyarakat semakin memperhatikan secara bersamaan masyarakat juga perlu menempatkan diri secara proporsional yaitu jangan pernah percaya seratus persen kepada orang karena tidak ada orang yang sempurna,”lanjutnya lagi

“Karena ada plus minusnya jangan pernah juga kita menyerahkan kepercayaan kepada elit politik yang kita pilih seolah-olah yang bersangkutan adalah malaikat, yang kits pilih ini manusia tetap punya kekurangan termasuk kita pribadi, maka supaya kita tidak sakit hati dan kecewa letakkan secara proporsional,”

“Caranya yang pertama kita sadar tidak ada yang sempura namun kita ingin memilih yang terbaik yang paling kita kehendaki dengan kriteria-kriteria yang terukur bukan karena gantengnya,”

Menurutnya ini penting, untuk tidak serta merta terjebak begitupula sebaliknya padahal tidak demikian, kami perlu menyampaikan ini berkenan pula kita menyampaikan kepada paling tidak komunitas perempuan atau ibu-ibu, jangan hanya memilih karena gantengnya saja tapi bobotnya bukan itu yang utama.

“Berikutnya karena tidak ada yang sempurna maka jangan pula menempatkan keinginan seolah-olah kita mencari yang sempurna itu tidak mungkin.,”

“Saya yakin di antara ini wajar cuma proporsional kita punya kesukaan tertentu dan itu manusiawi, tentunya kesukaan itu ada yang mungkin sekarang sedang suka sedang jadian atau sedang terluka itu semua bicara rasa,” ujarnya

Maka Viryan mengungkap kepada teman-teman yang hadir, ketika kita melihat disatu sisi kita senang disisi lain kadang kala ternyata ini begini dan begitu yaa, yang maknanya tidak mungkin ada orang yang sempurna.

“Begitu pula kita menempatkan ukuran-ukuran yang rasional, pasangannya begini-begini, itu tidak mungkin juga ada sempurna.
Mari kita proporsional kewenangan menyalonkan itu ada di partai politik yang sudah kita pilih pada saat pemilu yang lalu dengan segala loyalitas politik dan kondisi pasangan calon mari kita kemudian melihat dirinya rekam jejaknya serta visi dan misinya, tutupnya. (IH)

Laporan : Imran Husain

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here