Oleh : MS Anwar Sandia
Perbuatan makar didialog di pekan ini di televisi swasta menunjukkan ada wujud jiwa patriotisme ingin meninggikan derjat berbangsa dan bernegara dimata dunia bahwa Indonesia butuh tangan pemimpin bijaksana berilmu dan negarawan
Betapa negeri ini dijuluki Syekh Mahmout Syaltout, rektor Universitas Al-Azhar Kairo *”Indonesia Qit’atun min al-jannah ala al-ardh”* (Indonesia adalah potongan surga yang duturunkan Allah ke bumi). Sayang potongan surga itu direbut oleh koruptor
Band legendaris Koes Plus di tahun 1970, Yok Koeswoyo penulis lirik Kolam Susu, haru dinyanyikan “orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman”, lirik lagu ini dalam dua bait dan setiap bait diulang dua kali, menunjukkan kesadaran tentang negeri yang dijuluki potongan surga ini
Sejalan pandangan Syekh Syaltout dan Yok Koeswoyo melihat dengan cermat objektif Indonesia, namun mengapa wujud surga itu tak hadir menyapa rakyat bertarung nyawa mempertahankan hidup, terlunta derita menanti balas kasih atas nama bantuan sosial dan sejenisnya
Keresahan *”sepotong surga”* semakin sulit diwujud bila keadilan hukum tidak menjerakan koruptor. *”Saat Hukum Mati dan Pemiskinan koruptor”* ditegakkan untuk merebut kemabli potongan surga dikuasai bajingan koruptor. Wallahu a’lam.
Manado, 5 Dzulqo’dah 1447 H/22 April 2026
Ketua DP MUI Sulawesi Utara
Ketua Komisi Pendidikan dan Kaderisasi













