Banner IDwebhost
Banner IDwebhost

H. Rachmat Gobel : Pembangunan Yang Berkemanusiaan Sebagai Etika, Visi dan Praksis Peradaban

Rachmat Gobel Meninggal Dunia

Oleh : Dr. Drs. Joni Apriyanto, MHum

Sejarah pembangunan Indonesia tidak pernah berdiri sebagai sekadar deretan angka-angka pertumbuhan ekonomi, grafik investasi, atau laporan kebijakan negara. Ia adalah kisah panjang tentang manusia, tentang harapan, kerja keras, pengorbanan, dan pergulatan untuk mencapai martabat. Dalam bentangan sejarah itulah, kehadiran Rachmat Gobel menjadi penting untuk dibaca bukan hanya sebagai biografi seorang tokoh, tetapi sebagai representasi dari suatu cara pandang terhadap pembangunan: pembangunan yang berakar pada nilai-nilai kemanusiaan.

Eksistensi Gobel sesungguhnya adalah kelanjutan dari sebuah narasi besar yang dimulai jauh sebelumnya. Ia adalah anak dari zaman yang dibentuk oleh perjuangan industrialisasi nasional, yang salah satu fondasinya diletakkan oleh Thayeb Mohammad Gobel. Di tangan generasi pendahulu ini, industri bukan sekadar alat produksi, tetapi simbol kemandirian bangsa yang baru merdeka. Dalam konteks tersebut, Rachmat Gobel tidak hanya mewarisi sebuah perusahaan, tetapi juga mewarisi sebuah misi sejarah: melanjutkan perjuangan untuk membangun Indonesia melalui kekuatan ekonomi yang berdaulat, namun warisan itu tidak diterima secara pasif. Ia diolah, diperkaya, dan ditransformasikan melalui pengalaman personal dan intelektual. Pendidikan di Jepang memainkan peran penting dalam membentuk horizon berpikirnya. Jepang, sebagai negara yang bangkit dari kehancuran perang menjadi kekuatan industri dunia, memberikan pelajaran berharga tentang bagaimana pembangunan dapat dilakukan tanpa kehilangan identitas budaya dan nilai-nilai kemanusiaan. Dari sana, Gobel menyerap etos kerja yang disiplin, penghargaan terhadap proses, dan keyakinan bahwa manusia adalah inti dari setiap sistem produksi.

Di sinilah fondasi awal dari gagasan “pembangunan yang berkemanusiaan” mulai menemukan bentuknya. Bagi Gobel, pembangunan bukanlah proyek mekanistik yang hanya berorientasi pada output ekonomi. Ia adalah proses organik yang melibatkan manusia sebagai subjek utama. Dalam setiap keputusan bisnis, terdapat kesadaran bahwa keberhasilan perusahaan tidak boleh dicapai dengan mengorbankan kesejahteraan pekerja. Dalam setiap ekspansi industri, terdapat pertimbangan tentang dampaknya terhadap masyarakat dan lingkungan.

Dalam praktik industrialisasi yang ia jalankan, terlihat jelas bahwa orientasi ini bukan sekadar retorika. Industri yang dibangun melalui kemitraan global, terutama dengan Jepang, tidak hanya membawa modal, tetapi juga mentransfer pengetahuan dan keterampilan. Di sini, industrialisasi menjadi sarana pendidikan sosial, menciptakan tenaga kerja yang tidak hanya produktif, tetapi juga kompeten dan berdaya. Dengan demikian, pembangunan ekonomi menjadi jalan untuk memperluas kapabilitas manusia, sebagaimana yang diteorikan dalam pendekatan pembangunan manusia.

Lebih jauh lagi, eksistensi Gobel dalam dunia industri memperlihatkan suatu bentuk sintesis antara kapitalisme dan humanisme. Ia tidak menolak logika pasar, tetapi juga tidak tunduk sepenuhnya padanya. Dalam pandangannya, pasar harus diatur sedemikian rupa agar tidak mereduksi manusia menjadi sekadar faktor produksi. Di sinilah letak pentingnya intervensi nilai, bahwa ekonomi harus dikendalikan oleh etika, bukan sebaliknya.

Lihat Juga  In Memorian Rachmat Gobel (1962-2026), Pieter F. Gontha : Indonesia Kehilangan Putra Terbaik Bangsa

Ketika Gobel memasuki ranah politik, gagasan ini menemukan arena yang lebih luas sekaligus lebih menantang. Sebagai Menteri Perdagangan, ia dihadapkan pada realitas kompleks ekonomi global yang sering kali tidak berpihak pada negara berkembang. Dalam situasi tersebut, kebijakan yang diambilnya mencerminkan upaya untuk menyeimbangkan antara keterbukaan ekonomi dan perlindungan terhadap kepentingan nasional. Stabilitas harga, pengendalian impor, dan dukungan terhadap industri dalam negeri bukan hanya kebijakan teknokratis, tetapi juga pilihan moral, pilihan untuk melindungi rakyat dari dampak negatif globalisasi.

Perannya sebagai Wakil Ketua DPR RI semakin mempertegas dimensi politik dari pembangunan berkemanusiaan. Di lembaga legislatif, Gobel tidak hanya berbicara tentang angka-angka anggaran, tetapi juga tentang arah pembangunan nasional. Ia menekankan pentingnya pemerataan, keadilan sosial, dan pembangunan daerah. Dalam konteks Gorontalo, daerah asalnya, peran ini menjadi sangat signifikan karena menunjukkan bahwa pembangunan nasional harus berakar pada kebutuhan lokal.

Namun, eksistensi Gobel tidak dapat dipahami secara utuh tanpa melihat perannya dalam diplomasi internasional. Sebagai utusan khusus Presiden ke Jepang, ia memainkan peran strategis dalam memperkuat hubungan bilateral. Di sini, pendekatan yang ia gunakan berbeda dari diplomasi konvensional yang sering kali berorientasi pada kepentingan sempit negara. Gobel mendorong model kemitraan yang setara, di mana kedua belah pihak saling belajar dan saling menguatkan. Investasi tidak lagi dilihat sebagai bentuk dominasi, tetapi sebagai peluang untuk membangun kapasitas bersama.

Pendekatan ini mencerminkan suatu bentuk diplomasi berkemanusiaan, di mana hubungan internasional tidak hanya didasarkan pada kekuatan ekonomi atau politik, tetapi juga pada nilai-nilai kepercayaan dan solidaritas. Dalam dunia yang semakin terfragmentasi oleh kepentingan nasional yang sempit, pendekatan ini menjadi relevan sebagai alternatif.

Di luar dunia industri dan politik, dimensi kemanusiaan Gobel juga tercermin dalam keterlibatannya dalam berbagai kegiatan sosial. Aktivitas dalam organisasi kemanusiaan menunjukkan bahwa baginya, pembangunan tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab sosial. Ia memahami bahwa keberhasilan ekonomi harus diimbangi dengan kontribusi terhadap kesejahteraan masyarakat, terutama mereka yang berada dalam kondisi rentan.

Lihat Juga  APAKAH ADA?

Dalam perspektif filosofis, eksistensi Rachmat Gobel dapat dibaca sebagai upaya untuk mengembalikan makna pembangunan ke akar kemanusiaannya. Ia menolak reduksi pembangunan menjadi sekadar proses ekonomi, dan sebaliknya menegaskan bahwa pembangunan adalah proses moral. Dalam setiap kebijakan, setiap investasi, dan setiap tindakan, terdapat dimensi etika yang tidak boleh diabaikan.

Namun demikian, pendekatan ini tidak tanpa tantangan. Dalam konteks globalisasi yang kompetitif, tekanan untuk mengejar efisiensi dan keuntungan sering kali bertentangan dengan prinsip-prinsip kemanusiaan. Ketergantungan pada teknologi asing, ketimpangan regional, dan dinamika politik domestik menjadi tantangan nyata yang harus dihadapi. Di sinilah relevansi Gobel sebagai figur yang berusaha mencari keseimbangan, antara idealisme dan realitas, antara nilai dan kepentingan.

Dalam konteks Indonesia kontemporer, di mana pembangunan sering kali dihadapkan pada dilema antara pertumbuhan dan keadilan, model yang ditawarkan oleh Gobel menjadi semakin penting. Ia menunjukkan bahwa kedua hal tersebut tidak harus saling bertentangan. Dengan pendekatan yang tepat, pembangunan dapat sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan manusia.

Lebih dari itu, eksistensi Gobel memberikan pelajaran penting tentang kepemimpinan. Bahwa kepemimpinan tidak hanya tentang kemampuan mengelola sumber daya, tetapi juga tentang keberanian untuk mempertahankan nilai. Dalam dunia yang sering kali pragmatis, mempertahankan idealisme adalah tantangan tersendiri. Namun, justru di situlah letak kekuatan moral seorang pemimpin.

Pada akhirnya, narasi tentang H. Rachmat Gobel adalah narasi tentang harapan. Harapan bahwa pembangunan Indonesia dapat berjalan di jalur yang lebih manusiawi. Harapan bahwa ekonomi dapat menjadi alat untuk memuliakan manusia, bukan sebaliknya. Dan harapan bahwa dalam setiap langkah pembangunan, kita tidak pernah kehilangan orientasi utama: manusia itu sendiri.
Karena pembangunan yang kehilangan manusia hanyalah ilusi kemajuan. Tetapi pembangunan yang memuliakan manusia adalah fondasi dari peradaban yang sejati, peradaban yang tidak hanya maju secara material, tetapi juga bermartabat secara moral.

Gorontalo, 13 Juli 2026.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *