Banner IDwebhost
Banner IDwebhost

Fluktuasi Harga Pangan di Gorontalo Dipicu Minimnya Pasokan dan Cuaca Ekstrem

Gorontalo, MEDGO.ID – Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian dan Perdagangan (Kumperindag) Provinsi Gorontalo melaporkan adanya fluktuasi harga terhadap sejumlah komoditas pangan pokok dalam sepekan terakhir. Tiga komoditas yang mengalami perubahan harga signifikan adalah beras, bawang merah, dan cabe rawit.

Dari hasil pantauan, rata rata semua jenis beras mengalami kenaikan harga, dan yang paling tinggi mengalami kenaikan adalah jenis pandan wangi mengalami kenaikan hingga Rp18.750 per kilogram, sementara bawang merah juga naik tajam hingga mencapai Rp75.000 per kilogram. Berbeda dengan dua komoditas tersebut, cabe rawit justru mengalami penurunan harga ke angka Rp45.000 per kilogram.

Kepala Dinas Kumperindag Provinsi Gorontalo, Risjon Sunge, menjelaskan bahwa fluktuasi ini terjadi karena ketidakseimbangan antara permintaan dan pasokan di pasar, yang diperparah oleh dampak musim kemarau.

Lihat Juga  Gerak Cepat Balai Perlindungan Tanaman Gorontalo Atasi Serangan Tikus di Sawah Petani Limehe Barat

“Permintaan masyarakat terhadap bahan pokok masih tinggi, sementara pasokannya justru menurun. Ini yang memicu lonjakan harga, terutama pada komoditas beras dan bawang merah,” ungkap Risjon, Jumat (1/8/2025).

Risjon juga menambahkan bahwa kemarau yang tengah berlangsung berdampak pada sektor produksi pangan di sejumlah daerah sentra, sehingga turut menekan ketersediaan barang.

“Cuaca ekstrem kemarau cukup berdampak pada sektor produksi, sehingga pasokan dari daerah sentra produksi terganggu. Ini harus menjadi perhatian semua pihak, termasuk pemerintah daerah,” katanya.

Pemerintah daerah diharapkan segera mengambil langkah konkret untuk mengantisipasi potensi lonjakan harga lanjutan, termasuk memastikan ketersediaan stok dan distribusi bahan pokok berjalan lancar.

Lihat Juga  Tingginya Kasus Kekerasan, DP3AP2B Pohuwato Perkuat Penanganan Melalui Pelatihan Manajemen Kasus

“Kondisi ini belum sepenuhnya pulih, dan kita tidak bisa anggap remeh. Pemerintah provinsi bersama kabupaten/kota harus mengambil langkah strategis agar fluktuasi ini tidak berkepanjangan,” tutup Risjon.(IH)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *