Kabupaten Gorontalo,MEDGO.ID – Balai Perlindungan Tanaman Pertanian Provinsi Gorontalo kembali menunjukkan komitmennya dalam menjaga produktivitas pertanian melalui kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) dan Gerakan Pengendalian (Gerdal) OPT Tikus yang dilaksanakan pada 6 Mei 2025 di Kelompok Tani Nyiur Hijau, Desa Bongomeme, Kecamatan Dungaliyo, Kabupaten Gorontalo.
Kegiatan ini digelar menyusul adanya serangan hama tikus pada lahan pertanian milik petani seluas sekitar 23 hektar, dengan tingkat serangan ringan hingga sedang. Meski belum tergolong parah, kondisi ini tetap perlu segera ditangani agar tidak berkembang menjadi ancaman besar bagi hasil panen petani.
Petani yang tergabung dalam Poktan Nyiur Hijau menjadi peserta utama dalam kegiatan ini. Mereka mendapatkan pembekalan langsung mengenai cara pengendalian tikus yang efektif, praktis, dan bisa diterapkan secara berkelanjutan di lapangan.
Dalam sambutannya, Aman Mootalu, S.P selaku Koordinator POPT Kabupaten Gorontalo menyampaikan bahwa hama tikus merupakan salah satu musuh utama petani padi karena populasinya cepat berkembang dan dapat menimbulkan kerusakan besar dalam waktu singkat.
“Kalau tidak dikendalikan bersama-sama, tikus akan terus berkembang. Karena itu pengendalian harus dilakukan serentak agar hasilnya benar-benar efektif,” jelasnya.
Materi teknis kemudian disampaikan oleh narasumber Syaiful Yusuf , S.P yang menjelaskan strategi pengendalian tikus terpadu, termasuk penggunaan rodentisida sebagai salah satu langkah pengendalian yang dinilai cukup efektif bila diaplikasikan dengan benar.
Tak hanya teori, para petani juga langsung diajak praktik di lapangan melalui aksi Gerdal Tikus. Pengendalian difokuskan pada lubang-lubang aktif tikus dengan aplikasi rodentisida secara tepat sasaran. Petani juga diingatkan untuk menggunakan sarung tangan saat aplikasi agar umpan tidak terkontaminasi aroma manusia, sehingga lebih efektif.
Kegiatan ini turut dihadiri oleh Koordinator Jabatan Fungsional BALINTAN , Kepala BPP Kecamatan Dungaliyo, POPT , penyuluh pertanian, dan unsur terkait lainnya.
Suasana kegiatan berlangsung aktif dan penuh semangat. Para petani tampak antusias mengikuti setiap sesi, mulai dari penyampaian materi hingga praktik langsung di sawah.
Melalui kegiatan ini, diharapkan petani Desa Bongomeme semakin memahami pentingnya pengendalian tikus secara dini, tepat, dan serentak, sehingga serangan hama dapat ditekan dan hasil pertanian tetap aman.
Dengan kolaborasi antara pemerintah, petugas lapangan, dan petani, upaya menjaga ketahanan pangan daerah pun semakin kuat. (Rara)













