Indeks

Penelitian Terbaru UNG : Perairan Laut Torosiaje, Tingkat Pencemaran Micropalstik, Mengancam Kesehatan Manusia

Gorontalo, Medgo.ID — Laut yang selama ini menjadi sumber kehidupan masyarakat Bajo di Torosiaje, Kabupaten Pohuwato, ternyata menyimpan ancaman tak kasatmata. Penelitian terbaru mengungkap bahwa seluruh ikan konsumsi yang diteliti di Teluk Tomini telah terkontaminasi mikroplastik, partikel plastik berukuran mikro yang berpotensi membahayakan ekosistem laut dan kesehatan manusia.

Temuan ini dihasilkan dari riset yang dilakukan oleh Syam S. Kumaji, Dewi Wahyuni K. Baderan, Hasim, Zuliyanto Zakaria, Djuna Lamondo, dan Femy Mahmud Sahami dari Universitas Negeri Gorontalo (UNG). Penelitian tersebut dipublikasikan dalam Egyptian Journal of Aquatic Biology & Fisheries edisi Januari 2026.

Mikroplastik Ada di Semua Ikan yang Dikonsumsi

Penelitian dilakukan pada ikan-ikan komersial yang umum dikonsumsi masyarakat Bajo, komunitas maritim yang hidup di rumah panggung di atas laut dan sangat bergantung pada hasil perikanan. Hasilnya menunjukkan bahwa 100 persen sampel ikan mengandung mikroplastik, dengan tingkat kontaminasi tertinggi ditemukan di wilayah Torosiaje Mainland.

Rata-rata jumlah mikroplastik di wilayah ini mencapai 59 partikel per individu ikan, bahkan pada spesies Craterognathus plagiotaenia tercatat hingga 86 partikel mikroplastik per ekor, menjadikannya yang tertinggi dalam penelitian. Sementara itu, wilayah Torosiaje Settlement menunjukkan jumlah yang lebih rendah, meskipun mikroplastik tetap ditemukan di seluruh sampel ikan.

Serat Biru Dominasi Pencemaran

Dari segi karakteristik, mikroplastik yang ditemukan didominasi oleh bentuk serat (fiber) hingga mencapai 94 persen dari total partikel. Warna biru menjadi yang paling dominan, yakni 83 persen, disusul warna transparan dan hitam dalam jumlah yang jauh lebih kecil.

Para peneliti menilai, dominasi serat biru ini kuat kaitannya dengan aktivitas manusia, terutama penggunaan jaring dan tali nilon alat tangkap ikan, serta serat sintetis dari pakaian rumah tangga yang terlepas saat proses pencucian dan langsung masuk ke perairan.

Selain itu, ukuran mikroplastik yang paling banyak ditemukan berada pada rentang 1.000–5.000 mikrometer, menandakan bahwa partikel tersebut merupakan hasil pecahan plastik berukuran besar yang terdegradasi di laut, bukan mikroplastik primer seperti butiran kosmetik.

Ancaman bagi Ketahanan Pangan dan Budaya Maritim

Keberadaan mikroplastik dalam ikan konsumsi menjadi persoalan serius bagi masyarakat Bajo. Selain berisiko bagi kesehatan manusia, mikroplastik juga berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem laut dan ketahanan pangan komunitas pesisir yang sepenuhnya bergantung pada hasil laut.

Sebagai masyarakat adat yang memiliki hubungan erat dengan laut dan menjunjung tinggi kearifan lokal dalam menjaga lingkungan, pencemaran mikroplastik menjadi tantangan baru yang tidak bisa diabaikan.

Perlu Pengelolaan Sampah Pesisir Berbasis Komunitas

Tim peneliti menekankan pentingnya pengelolaan sampah pesisir berbasis komunitas, khususnya di kawasan rumah panggung di atas laut. Upaya lain yang dinilai mendesak adalah pengurangan penggunaan bahan sintetis, peningkatan kesadaran lingkungan, serta pemantauan rutin mikroplastik pada biota laut.

Penelitian ini menjadi data awal penting dalam memahami pencemaran mikroplastik di Teluk Tomini sekaligus menjadi dasar penyusunan kebijakan perlindungan lingkungan laut yang lebih berkelanjutan, terutama di wilayah pesisir dengan karakteristik budaya maritim seperti Torosiaje.

Exit mobile version