Indeks

Penelitian Fakultas Kedokteran UNG: Diabetes Tingkatkan Risiko Batu Empedu hingga Tiga Kali Lipat

Gorontalo, Medgo.ID  – Diabetes Melitus tidak hanya berkaitan dengan komplikasi klasik seperti penyakit jantung, gangguan ginjal, dan kerusakan saraf. Penelitian terbaru Universitas Negeri Gorontalo (UNG) menunjukkan bahwa penyakit ini juga berpotensi meningkatkan risiko gangguan pada kantung empedu.

Studi yang dilakukan peneliti Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo dan dipublikasikan dalam Medic Nutricia: Jurnal Ilmu Kesehatan (2025) menemukan adanya hubungan signifikan antara diabetes dan Kolelitiasis di RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe.

Dari 91 pasien yang diteliti sepanjang 2024, sebanyak 45 orang atau 49,5 persen terdiagnosis suspek kolelitiasis. Temuan ini menunjukkan tingginya potensi kasus batu empedu pada pasien dengan keluhan terkait sistem empedu.

Penelitian tersebut juga mencatat bahwa perempuan mendominasi kasus dengan persentase 72,5 persen, sementara kelompok usia 45–59 tahun menjadi yang paling banyak terdampak, yakni 37,4 persen.

Hubungan antara diabetes dan batu empedu terlihat cukup kuat. Dari 25 pasien dengan riwayat diabetes, sebanyak 18 orang mengalami kolelitiasis. Hasil analisis menunjukkan nilai p = 0,008 (p < 0,05), yang berarti hubungan tersebut signifikan secara statistik.

Selain itu, nilai Odds Ratio (OR) sebesar 2,799 mengindikasikan bahwa penderita diabetes memiliki risiko hampir tiga kali lebih besar mengalami batu empedu dibandingkan mereka yang tidak menderita diabetes.

Secara medis, kondisi ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya resistensi insulin yang meningkatkan kadar kolesterol dalam empedu, serta hiperglikemia kronis yang mengganggu kontraksi kantung empedu. Akibatnya, empedu menjadi lebih mudah membentuk batu.

Kolelitiasis sendiri merupakan kondisi terbentuknya batu di dalam kantung empedu akibat endapan kolesterol atau pigmen empedu. Secara global, prevalensinya diperkirakan mencapai 11,7 persen populasi. Namun, sekitar 50 hingga 75 persen kasus berlangsung tanpa gejala dan baru terdeteksi saat terjadi komplikasi seperti Kolesistitis atau Pankreatitis.

Peneliti menilai, temuan ini menjadi penting di tengah meningkatnya kasus diabetes di Indonesia yang dipicu oleh pola makan tinggi lemak dan rendahnya aktivitas fisik.

Pengendalian diabetes, lanjutnya, tidak cukup hanya berfokus pada kadar gula darah. Diperlukan pendekatan yang lebih menyeluruh, termasuk pemantauan profil lipid, penerapan pola makan sehat, peningkatan aktivitas fisik, serta pemeriksaan ultrasonografi bagi kelompok berisiko tinggi.

Meski demikian, penelitian ini masih memiliki keterbatasan karena menggunakan desain potong lintang berbasis data rekam medis, sehingga belum dapat memastikan hubungan sebab-akibat secara langsung.

Temuan ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi penelitian lanjutan sekaligus meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap risiko penyakit yang sering tidak bergejala.(*)

Exit mobile version