Gorontalo, Medgo.ID – Gubernur Gusnar Ismail menegaskan komitmennya dalam mendukung pengembangan Universitas Negeri Gorontalo (UNG), khususnya pada peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran yang digelar Selasa (03/03).
Dalam sambutannya, Gusnar menyebut pembukaan program tersebut sebagai lompatan besar bagi dunia pendidikan di Gorontalo. Ia menilai, kehadiran Fakultas Kedokteran UNG merupakan buah dari mimpi panjang masyarakat yang kini terus berkembang hingga ke jenjang spesialis dan subspesialis.
“Ini adalah langkah besar. Kita patut bersyukur karena mimpi panjang menghadirkan pendidikan kedokteran di Gorontalo kini semakin nyata, bahkan berkembang hingga ke jenjang spesialis dan subspesialis,” ujarnya.
Meski demikian, ia tidak menampik bahwa pendidikan kedokteran masih identik dengan biaya yang tinggi. Persoalan pembiayaan, menurutnya, bukan hanya menjadi beban masyarakat, tetapi juga tantangan bagi pemerintah daerah dalam menyusun kebijakan yang tepat dan berkelanjutan.
Gusnar mengungkapkan bahwa peningkatan kualitas sumber daya manusia, termasuk melalui program beasiswa, menjadi salah satu prioritasnya sejak masa kampanye Pilkada. Namun setelah menjabat dan melakukan perhitungan detail terhadap kebutuhan anggaran, ia mendapati bahwa pembiayaan pendidikan kedokteran memerlukan dana yang sangat besar.
Ia menjelaskan bahwa perguruan tinggi berstatus Badan Layanan Umum (BLU) memiliki kewenangan dalam merancang skema pendapatan dan pembiayaan, sehingga diperlukan formulasi yang tepat agar akses pendidikan tetap terbuka bagi masyarakat.
Di sisi lain, Gubernur juga menyoroti kondisi fiskal Provinsi Gorontalo yang relatif terbatas. Kapasitas fiskal daerah yang awalnya berada di kisaran Rp1,9 triliun mengalami penyesuaian menjadi sekitar Rp1,7 triliun pada 2025 dan diproyeksikan turun menjadi Rp1,5 triliun pada 2026.
“Kondisi fiskal kita tipis. Karena itu, pengaturan anggaran seringkali memicu perdebatan dengan DPRD. Dalam sepuluh kali pertemuan, delapan kali bisa diwarnai perdebatan karena kita mengatur sesuatu yang jumlahnya terbatas,” ungkapnya.
Meski menghadapi keterbatasan, Gusnar tetap optimistis terhadap peluang investasi di Gorontalo. Ia berharap kolaborasi dengan sektor swasta dapat menjadi solusi alternatif dalam mendukung pembiayaan pendidikan, termasuk melalui program beasiswa maupun dukungan langsung kepada fakultas yang sangat dibutuhkan masyarakat.
“Harapan kita, semua anak-anak Gorontalo tetap bisa bercita-cita tinggi. Pendidikan harus tetap menjadi jalan mobilitas sosial, dan kita akan terus mencari jalan keluarnya bersama,” pungkasnya.(IH)
