Gorontalo, Medgo.ID — Persoalan pembongkaran cagar budaya eks rumah jawatan pos dan telegraf, semakin menuai kontroversial.
Pasalnya aktifis Solidaritas intelektual generasi aktifis Gorontalo (SIGA), mulai mendapat ancaman. Tak seperti biasanya, saat proses penyelidikan masih berjalan, tak ada tekanan dan teror, nanti pasca peningkatan status penyidikan oleh Ditreskrimsus Polda Gorontalo, para aktifis SIGA mulai diincar.
Tiba-tiba masuk nomor tak diketahui, memanghil saat diangkat langsung disampaikan hati-hati kalian.
”Semalam, kami dtelpon oleh nomor yang tidak ada dalam handphone kami, dengan nada tinggi,” kata salah satu pegiat LSM SIGA, Djamaludin Puluhulawa, yang biasa dipanggil Agung, kepada Medgo.ID ia menyampaikannya Senin (07/09/2026).

Menurut Agung ia tak pernah bermasalah pribadi dengan siapapun, nanti belakangan setelah aktif dalam aksi mendukung proses hukum, yang sementara ditangani Polisi.
Menurutnya, teror ini upaya untuk menekan dan membungkam kemerdekaan menyampaikan pendapat didrpan publik, dan ia berharap menjafi perhatian aparat kepolisian.
”Kami anggap, ini bagian menekan gerakan mahasiswa, dalam upaya melindungi dan meladtarikan bangunan cagar budaya yang memiliki nilai sejarah,”
Apakah dengan teror ini membuat mahasiswa gentar dan enggan untuk bersuara, menuut Agung, justru itu akan lebih membakar semangat mereka dalam mengawal proses hukum di Polda Gorontalo.(ai)













