Banner IDwebhost
Banner IDwebhost

Indrawati Gobel dan Ujian Politik Nasdem Gorontalo

Indrawati Gobel Ketua DPW Nasdem Gorontalo

Oleh: Dr. Funco Tanipu, S.T., M.A.
Founder The Gorontalo Institute

 

Penunjukan Indrawati Gobel sebagai Ketua DPW PartaiNasDem Provinsi Gorontalo pada 14 September 2026 mengakhiri satu fase ketidakpastian setelah kepergian RachmatGobel. Surya Paloh memilih adik kandung Rachmat untukmemimpin partai yang dalam beberapa tahun terakhir tumbuhmenjadi salah satu kekuatan utama politik Gorontalo. Pilihan itusekaligus memperlihatkan bahwa NasDem mengambil jalankeberlanjutan melalui keluarga Gobel pada saat partai sedangkehilangan figur yang selama ini menjadi pusat kekuatannya.

Namun pergantian ketua tidak otomatis menyelesaikanpersoalan yang ditinggalkan Rachmat. Jabatan dapat dialihkanmelalui keputusan organisasi, tetapi pengaruh, kewibawaan, jaringan dan kepercayaan tidak dapat dipindahkan melalui suratkeputusan. Karena itu, tantangan Indrawati bukan sekadar duduk di kursi yang pernah ditempati kakaknya, melainkanmembangun alasan baru mengapa para elite NasDem tetapbersedia berada dalam satu barisan di bawah kepemimpinannya.

Situasi ini menjadi lebih menarik karena dua partai besar di Gorontalo kini dipimpin perempuan. NasDem dipimpinIndrawati Gobel, sedangkan Golkar dipimpin Idah Syahidah. Keduanya sama-sama perempuan dan sama-sama mempunyaihubungan dengan keluarga politik yang kuat, tetapi datang kepucuk kepemimpinan melalui pengalaman, jaringan dan sumberkekuatan yang berbeda.

Modal Keluarga dan Kekuatan Awal Indrawati

Indrawati memulai kepemimpinannya dengan modal yang tidakkecil. Ia adalah adik Rachmat Gobel, figur yang pada Pemilu2024 memperoleh 195.322 suara untuk DPR RI dan selamabeberapa tahun menjadi wajah utama NasDem di Gorontalo. Kedekatan keluarga dengan tokoh sebesar Rachmat memberikanpengenalan dan penerimaan awal yang tidak mudah diperolehpolitisi baru.

Modal itu bahkan tidak hanya berasal dari Rachmat. KeluargaGobel telah mempunyai hubungan sosial yang panjang denganGorontalo, jauh sebelum Rachmat terjun ke politik. Nama Thayeb Mohammad Gobel, kegiatan ekonomi keluarga, hubungan dengan pendidikan, kegiatan sosial dan berbagaiaktivitas lain membuat nama Gobel telah lama berada dalamingatan masyarakat.

Karena itu, ketika Indrawati masuk ke pucuk NasDem, ia tidakmemulai dari nol. Ia membawa nama keluarga yang sudahdikenal, jaringan sosial yang telah terbentuk, hubungan ekonomiyang luas dan warisan politik yang sebelumnya dirintis oleh Rachmat. Dalam politik lokal, seluruh modal ini mempunyainilai karena seorang pemimpin tidak hanya membutuhkanjabatan, tetapi juga pengenalan, jaringan dan kepercayaan.

Kekuatan seperti ini hanya dapat dipahami jika politik Gorontalo dibaca bersama struktur sosialnya. Kekerabatan masihmempunyai tempat penting dalam kehidupan masyarakatGorontalo, dan marga tetap menjadi salah satu penanda asal-usul, hubungan keluarga dan reputasi sosial. Nama keluargadalam banyak kasus bukan sekadar nama belakang, tetapi juga membawa cerita tentang siapa keluarga itu, bagaimana merekadikenal, dan jaringan apa yang berada di sekitarnya.

Nama-nama seperti Gobel, Habibie, Monoarfa, Uno, Katili, dan keluarga besar lainnya menunjukkan bagaimana kekerabatandapat bertahan di tengah modernisasi politik. Partai, pemilu, survei dan media tidak menghapus hubungan keluarga, tetapijustru memberi ruang baru bagi kekuatan keluarga masuk kedalam arena politik. Nama keluarga kemudian dapat menjadijembatan yang menghubungkan reputasi sosial dengankekuasaan politik.

Dalam konteks itu, Indrawati mempunyai keuntungan yang nyata. Ia membawa nama Gobel pada saat NasDemmembutuhkan figur yang dapat menjaga rasa keberlanjutansetelah kehilangan Rachmat. Bagi sebagian kader dan elite, nama itu dapat memberikan rasa aman bahwa kepemimpinanbaru masih berada dalam lingkaran yang dikenal dan dianggapmempunyai hubungan langsung dengan warisan politikRachmat.

Namun modal keluarga tetap mempunyai batas. Nama besardapat mempercepat penerimaan, tetapi tidak otomatis membuatseseorang mampu mengelola partai, menyelesaikan konflik ataumengendalikan berbagai kepentingan. Kekuatan keluarga hanyamenjadi modal awal, sedangkan kemampuan politik harusdibuktikan melalui keputusan dan kerja kepemimpinan.

Di sinilah perbandingan dengan Idah Syahidah menjadi penting. Idah juga tidak dapat dilepaskan dari jaringan keluarga politik, tetapi ia memasuki kepemimpinan Golkar setelah mempunyaipengalaman yang lebih panjang dalam birokrasi, organisasisosial, DPR RI, Pilkada dan pemerintahan daerah. Dengan kata lain, Idah membawa modal keluarga sekaligus pengalaman yang telah lama dikumpulkan melalui berbagai jabatan.

Indrawati berada pada posisi yang berbeda. Modal awalnyamungkin sangat besar karena nama Gobel dan warisan Rachmat, tetapi pengalaman kepemimpinan politiknya belum sepanjangIdah. Perbedaan ini bukan soal siapa lebih layak, melainkan soalsumber kekuatan yang berbeda dan pekerjaan politik yang harusdilakukan setelah menduduki jabatan.

Membangun Otoritas Sendiri

Tantangan utama Indrawati adalah membangun kewibawaanyang tidak hanya bersumber dari nama kakaknya. Selama ini, jejak publiknya dalam jabatan struktural partai, pemerintahanatau lembaga politik belum sepanjang sejumlah elite yang sekarang akan dipimpinnya. Ia langsung masuk ke posisitertinggi NasDem Gorontalo pada saat partai sedangmenghadapi masa transisi.

Keadaan ini membuat Indrawati mempunyai jabatan lebih cepatdaripada pengalaman politik yang terlihat di ruang publik. Ia memiliki kewenangan formal karena ditunjuk Ketua Umum, dan mempunyai kekuatan simbolik karena membawa nama Gobel. Namun kewibawaan politik yang lahir dari kemampuanmengendalikan konflik, mengatur kepentingan, menghadapipemilu dan mengambil keputusan sulit masih harus dibangun.

Masalah berikutnya adalah bayang-bayang Rachmat yang sangat besar. Dalam jangka pendek, bayang-bayang itu membantuIndrawati karena membuatnya mudah dikenali dan diterimasebagai bagian dari keberlanjutan. Dalam jangka panjang, iaharus keluar dari posisi sebagaiadik Rachmat” dan mulaidikenal karena keputusan dan kemampuan politiknya sendiri.

Lihat Juga  Mantan Bawahan RH, Kadis PUPR Handoyo Sugiharto dan Afandi Laya Terbukti Bersalah dan Dihukum Penjara

Tugas ini tidak mudah karena Rachmat dahulu menjalankanbanyak fungsi sekaligus. Ia bukan hanya Ketua DPW, tetapi juga figur nasional, pemilik daya elektoral yang besar, penghubungke pusat, pemilik jaringan ekonomi dan orang yang dapatmengambil keputusan ketika terjadi perselisihan di internal partai. Karena itu, banyak elite NasDem bukan sekadarmenghormati jabatan Rachmat, tetapi juga memperhitungkankapasitas personal yang melekat padanya.

Indrawati membawa nama yang sama, tetapi kondisi politiknyatidak sama. Nama Gobel dapat diwariskan, sedangkankemampuan menjadi penjamin bagi berbagai kelompok di dalampartai hanya dapat dibangun melalui pengalaman. Di sinilahkepemimpinannya akan diuji sejak awal.

Ujian itu semakin berat karena NasDem Gorontalo tidak diisipolitisi yang baru belajar politik. Di dalamnya ada kepala daerahseperti Rum Pagau dan Sofyan Puhi, serta Wakil BupatiPohuwato Iwan Adam. Ada pula Marten Taha, Ridwan Monoarfa, Mikson Yapanto, Umar Karim, Roni Imran, Feriyanto Mayulu dan sejumlah figur lain yang masing-masing telah mempunyai pengalaman, jaringan dan basis politik.

Mereka bukan sekadar pengurus yang menunggu instruksi KetuaDPW. Masing-masing mempunyai hubungan dengan pemilih, kelompok masyarakat, pengusaha, birokrasi, tokoh agama dan jaringan politik di daerahnya. Karena itu, seorang ketua tidakcukup hanya mempunyai kewenangan administratif, tetapi harusmampu membuat seluruh kekuatan tersebut tetap melihatNasDem sebagai rumah yang memberi manfaat politik.

Pada masa Rachmat, kebutuhan itu relatif lebih mudah dipenuhi. Banyak politisi datang ke NasDem dari latar belakang berbeda, dan sebagian tidak tumbuh sejak awal melalui kaderisasi internal partai. Mereka dapat berkumpul karena ada Rachmat sebagaifigur yang memberikan jaminan, akses, perlindungan dan dayatawar yang kuat.

Di sinilah kekuatan NasDem sekaligus menjadi sumberkerentanannya. Partai tumbuh besar karena mampu menariktokoh-tokoh yang telah mempunyai modal politik sendiri, tetapisemakin banyak elite kuat yang bergabung, semakin besar pula kebutuhan terhadap figur yang mampu menjaga keseimbangandi antara mereka. Rachmat memainkan fungsi itu, sedangkanIndrawati sekarang harus membangun kemampuan yang samamelalui cara yang mungkin berbeda.

Jika dibandingkan dengan Idah, posisi Indrawati lebih rumit. Idah memimpin Golkar setelah melewati pengalaman panjang di birokrasi, organisasi, parlemen dan pemerintahan, sehingga iamempunyai bekal untuk membaca watak organisasi dan berbagai kepentingan di dalamnya. Selain itu, ia berada di tengah jaringan Golkar yang telah lama terbentuk dan mempunyai banyak figur senior yang memahami sejarahinternal partai.

Idah juga masih mempunyai Rusli Habibie disampingnyasebagai sumber rujukan politik yang penting di sekitarnya. Rusli pernah memimpin Golkar, menjadi gubernur dua periode dan mempunyai pengalaman panjang dalam membaca peta elite Gorontalo. Keberadaan figur seperti ini memberi ruangkonsultasi dan koreksi ketika keputusan politik yang rumit harusdiambil, meskipun kewenangan formal tetap berada pada Idah sebagai ketua.

Indrawati belum terlihat mempunyai figur pendamping denganposisi dan pengalaman yang setara. Rachmat dahulu justrumenjadi pusat tempat banyak keputusan bermuara, sehinggaketika ia tidak ada, NasDem kehilangan orang yang selama iniberfungsi sebagai tempat terakhir untuk menyelesaikanperselisihan. Kekosongan ini dapat menjadi lebih serius daripadapersoalan popularitas Indrawati sendiri.

Persoalan gender juga perlu dibaca secara hati-hati. Menjadiperempuan bukan kelemahan Indrawati, tetapi arena politiklokal masih banyak dikendalikan jaringan laki-laki, baik di partai, pemerintahan, bisnis maupun hubungan informal antarelite. Dalam lingkungan seperti itu, seorang perempuansering kali harus bekerja lebih keras untuk mendapatkanpengakuan atas kewibawaannya.

Idah relatif lebih siap menghadapi keadaan tersebut karena telahlama berada dalam berbagai arena politik dan organisasi. Indrawati harus membangun penerimaan itu dalam waktu yang lebih singkat sambil membawa ekspektasi besar dari nama Gobel. Karena itu, tantangannya bukan hanya memimpinNasDem, tetapi juga membuktikan bahwa kewibawaannya tidakbergantung terus-menerus pada nama kakaknya.

NasDem Setelah Rachmat

Masa depan NasDem tidak akan ditentukan oleh kemampuanIndrawati menjadi Rachmat kedua. Bahkan jika ia mencobameniru sepenuhnya cara Rachmat, hasilnya belum tentu samakarena keduanya mempunyai pengalaman, jaringan dan kekuatan yang berbeda. Yang lebih penting adalah apakahIndrawati dapat menemukan bentuk kepemimpinan yang sesuaidengan keadaan NasDem setelah Rachmat.

Rachmat mempunyai sumber daya yang memungkinkan banyakkeputusan bertumpu pada dirinya. Indrawati kemungkinan harusbekerja dengan cara berbeda, yaitu membagi ruang kepadaberbagai pusat kekuatan yang sudah ada dan memastikansemuanya tetap bergerak dalam satu arah. Ia lebih membutuhkankemampuan mengoordinasikan daripada memusatkan seluruhkekuasaan.

Kondisi ini membuat masa depan NasDem sangat tergantungpada hubungan antara ketua baru dan para elite yang telah lama berada di dalam partai. Jika Rum Pagau, Sofyan Puhi, Iwan Adam dan para legislator tetap melihat NasDem sebagaikendaraan politik yang menjanjikan, partai masih mempunyaidaya tahan yang kuat. Jika mereka mulai merasa bahwa jaminanyang dahulu diberikan Rachmat telah hilang, setiap orang akanmulai menghitung kembali kepentingannya sendiri.

NasDem sekarang sedang memasuki tahap ketika kekuatanpartai dan kekuatan Rachmat mulai dapat dipisahkan. SelamaRachmat masih hidup, keduanya sulit dibedakan karena suarapartai dan suara personal Rachmat tumbuh bersama. SetelahRachmat tidak ada, baru akan terlihat seberapa kuat NasDemsebagai organisasi dan seberapa besar selama ini bergantungpada seorang figur.

Lihat Juga  Gorontalo Karnaval Karawo Tembus KEN 2026, Peluang Ekonomi Kreatif Makin Terbuka

Ujian pertama adalah konsolidasi internal. Selama belum adapembagian posisi, pencalonan atau keputusan yang menyentuhkepentingan langsung elite, suasana partai mungkin tetap terlihattenang. Ujian sebenarnya biasanya datang ketika harusmenentukan siapa mendapatkan tempat, siapa maju dalampemilu, siapa memperoleh dukungan dan siapa harus mengalah.

Di titik-titik itulah kemampuan Indrawati akan diuji. Ia harusmampu mengambil keputusan yang cukup kuat untuk dihormati, tetapi juga cukup lentur agar tidak memecah jaringan yang telahdibangun Rachmat. Jika keputusan terlalu lemah, ketua dapatkehilangan kewibawaan; jika terlalu keras tanpa pemahamanmendalam terhadap peta internal, konflik dapat melebar.

Rachmat dahulu mempunyai semacam kontrak tidak tertulisdengan banyak elite NasDem. Selama mereka berada di dalampartai, ada figur nasional yang mempunyai akses ke pusat, sumber daya, hubungan dengan Ketua Umum dan kemampuanmenjadi penjamin ketika muncul persoalan. Kontrak politikseperti itu sekarang sudah tidak dapat bekerja dengan cara yang sama.

Indrawati karena itu harus membangun kesepakatan baru denganpara elite. Ia perlu menawarkan kepastian, rasa keadilan dalamdistribusi peran, akses yang terbuka kepada keputusan dan prospek politik yang membuat mereka tetap merasa NasDemadalah kendaraan yang masuk akal. Tanpa itu, nama Gobel sajatidak akan cukup untuk menjaga seluruh jaringan tetap beradadalam satu rumah.

Di sinilah pengetahuan tentang politik Gorontalo menjadi sangat menentukan. Politik lokal bukan hanya tentang aturan partai, tetapi juga tentang hubungan keluarga, sejarah persaingan, loyalitas lama, sentimen wilayah, hubungan personal dan konflik yang kadang tidak pernah muncul di ruang publik. Ketuayang tidak memahami lapisan-lapisan tersebut dapat mengambilkeputusan yang benar secara aturan, tetapi salah dalamperhitungan politik.

Perbandingan dengan Golkar kembali menunjukkan tantanganyang dihadapi Indrawati. Idah memimpin partai yang lebih tua, mempunyai ingatan organisasi yang panjang, serta didukungbanyak kader yang telah melewati beberapa periode pergantiankepemimpinan. Indrawati memimpin partai yang kebesarannyadi Gorontalo tumbuh sangat erat dengan satu figur, sehingga iaharus membangun kekuatan organisasi pada saat bayangan figuritu masih sangat kuat.

Pemilu 2029 akan menjadi ukuran yang paling terbuka. Dalamdua pemilu terakhir, sebagian besar suara NasDem untuk DPR RI di Gorontalo terkonsentrasi pada Rachmat. Tanpa Rachmatsebagai calon dan magnet utama, NasDem akan mengetahuiberapa banyak suara yang benar-benar telah menjadi milikpartai.

Jika NasDem mampu mempertahankan kekuatan elektoralnya, berarti sebagian besar warisan Rachmat berhasil dijadikankekuatan organisasi. Jika suara DPR RI turun tetapi kekuatanNasDem di tingkat DPRD tetap bertahan, berarti partai masihmempunyai jaringan lokal yang kuat meskipun kehilanganmesin personal Rachmat. Jika keduanya sama-sama turun, itumenjadi tanda bahwa ketergantungan kepada Rachmat selamaini jauh lebih besar daripada yang terlihat.

Karena itu, Indrawati tidak perlu menghabiskan energi untukmenjadi Rachmat yang baru. Ia justru perlu membangunNasDem yang tidak lagi membutuhkan satu orang sebagaipenyangga seluruh kekuatan partai. Jika itu berhasil, kepemimpinannya akan mempunyai arti yang jauh lebih besardaripada sekadar meneruskan nama keluarga.

Kekerabatan dapat membantu proses itu, tetapi tidak bolehmenjadi tujuan akhir. Nama Gobel dapat dipakai untuk menjagakepercayaan pada masa transisi, sementara partai membangunaturan, kaderisasi, mekanisme penyelesaian konflik dan pembagian kewenangan yang lebih sehat. Pada titik itu, modal keluarga benar-benar berubah menjadi kekuatan organisasi.

Sebaliknya, jika elite NasDem hanya bertahan selama masihpercaya bahwa nama Gobel mampu memberi jaminan yang sama seperti Rachmat, partai akan menghadapi persoalan serius. NasDem akan terlihat lebih menyerupai kumpulan jaringanpolitik yang dahulu disatukan oleh seorang figur daripadaorganisasi yang mempunyai daya ikat sendiri. Ketika jaminanpersonal melemah, setiap jaringan akan kembali menghitungpilihan yang paling menguntungkan.

Itulah ujian terbesar Indrawati Gobel. Pertanyaannya bukan lagiapakah keluarga Gobel masih dapat memimpin NasDem, karenaSurya Paloh telah menjawabnya dengan menunjuk Indrawati. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah Indrawati mampumembuat para politisi yang dahulu merasa aman karenaRachmat tetap mempunyai alasan untuk bertahan setelahRachmat tidak lagi ada.

Jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan arah NasDemGorontalo dalam beberapa tahun ke depan. Jika Indrawatiberhasil membangun kewibawaan sendiri dan mengubahwarisan Rachmat menjadi kekuatan partai, NasDem dapat keluardari ketergantungan pada satu figur. Jika tidak, penunjukannyahanya akan memperpanjang keberlanjutan nama Gobel tanpamenyelesaikan persoalan utama NasDem setelah kehilanganRachmat.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *