Gorontalo, MEDGO.ID -Harga beras di Provinsi Gorontalo masih terpantau tinggi di atas Harga Eceran Tertinggi (HET). Berdasarkan hasil pantauan Dinas Perdagangan Provinsi bersama pemerintah kabupaten/kota, kenaikan harga terutama terjadi di pasar-pasar tradisional.
Kepala Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Gorontalo, Risjon Sunge, menjelaskan bahwa harga beras di Pasar Sentral dan sejumlah pasar mingguan bervariasi antara Rp13.000 hingga Rp14.000 per liter. Jika dikonversi ke satuan kilogram, harga tersebut bisa menembus Rp16.500 per kilogram.
“Padahal HET yang ditetapkan oleh Badan Pangan Nasional (Bapanas) untuk beras premium sebesar Rp14.900 per kilogram, dan beras medium Rp13.500 per kilogram,” ujar Risjon, Kamis (30/10).
Menurutnya, salah satu penyebab utama masih tingginya harga beras adalah harga pengambilan di tingkat pedagang besar atau gudang pengumpul yang masih berkisar Rp690.000 hingga Rp700.000 per karung.
Pemerintah pusat maupun daerah kini terus berupaya menekan harga beras, di antaranya melalui penyediaan beras SPHP dengan harga Rp62.500 per 5 kilogram. Langkah ini diharapkan dapat menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan di tingkat konsumen.
“Harapannya, harga beras akan terus turun seiring dengan program Swasembada Beras Nasional yang dicanangkan pemerintah pusat pada akhir tahun 2025,” lanjutnya.
Risjon juga menambahkan bahwa dalam waktu dekat, beras premium dengan harga sesuai HET akan mulai dipasarkan melalui ritel modern seperti Hypermart, Indomaret, Alfamart, Indogrosir, serta ritel lokal lainnya.
Sementara itu, Satgas Pangan Polda Gorontalo bersama Pengawas Perdagangan Provinsi akan terus melakukan monitoring dan pengawasan distribusi hingga ke gudang penampungan.
“Satgas siap memberikan sanksi bagi pelaku usaha yang terindikasi mempermainkan harga atau melakukan penimbunan beras,” tegas Risjon Sunge. (IH)













