Karya: Joni Apriyanto
Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm,
aku mulai dengan Nama
yang mengajarkan hati untuk pulang,
sebab setiap yang datang dari-Nya
akan kembali kepada-Nya:
“Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn.”
Malam turun seperti selimut dzikir,
dan aku duduk di tepian waktu,
menghitung denyut sejarah
yang perlahan kehilangan ruhnya.
Di sana,
di antara desir doa para faqir,
di antara air mata yang tak sempat disebut,
aku mendengar satu nama
yang tidak menggema di langit manusia,
namun tertulis tenang di Lauḥ al-Maḥfūẓ:
H. Rachmat Gobel.
Ia bukan sekadar manusia,
ia adalah jalan sunyi
yang dipilih untuk mengalirkan rahmat.
Seperti firman-Nya:
“Man ‘amila ṣāliḥan falinafsih,”
barang siapa berbuat kebaikan,
maka untuk dirinya sendiri.
Namun ia melampaui itu,
ia memberi,
seolah-olah dirinya tak pernah ada.
Wahai jiwa yang tenang,
“Yā ayyatuha an-nafs al-muṭma’innah,
irji‘ī ilā rabbiki rāḍiyatan marḍiyyah,”
aku melihat pantulan ayat itu
dalam langkah-langkahnya yang bersahaja.
Ia berjalan tanpa ingin dikenang,
ia mencintai tanpa ingin dicatat,
ia berkhidmat tanpa ingin diabadikan.
Sebab ia tahu,
dalam jalan para ‘ārif,
yang dicari bukan dunia,
melainkan Wajah-Nya:
“Fa aynamā tuwallū fa ṡamma wajhullāh.”
Wahai angin yang pernah menyentuh wajahnya,
katakan padaku,
di mana kini ia bersemayam?
Apakah ia telah larut
dalam samudera fana’
sebagaimana diajarkan para sufi?
Apakah ia telah menanggalkan namanya,
dan menjadi tiada
dalam Ada-Nya?
“Kullu man ‘alaihā fān,
wa yabqā wajhu rabbika żul-jalāli wal-ikrām.”
Segala yang ada akan binasa,
dan ia telah memahami itu
sebelum dunia sempat mengajarinya.
Ia menanam amal
seperti petani menanam hujan,
tanpa tahu kapan akan dipanen,
tanpa peduli siapa yang memetik.
Dan kini, ketika tubuhnya
telah kembali menjadi tanah,
aku bertanya pada bumi:
apakah engkau mengenangnya
seperti kami merindukannya?
Atau engkau menyimpannya
dalam rahasia yang tak dapat kami sentuh?
Wahai manusia yang hidup
di zaman bayang-bayang,
di mana suara lebih keras dari makna,
dan cahaya lebih sering palsu dari kebenaran,
aku bertanya kepada kalian,
dengan luka yang tak ingin sembuh:
apakah ada
yang berjalan seperti ia berjalan?
Yang memberi tanpa pamrih,
yang menunduk tanpa terpaksa,
yang mencintai tanpa ingin dimiliki dunia?
Apakah ada
yang menukar gemerlap dunia
dengan sunyi yang penuh Tuhan?
Atau kita telah lupa
jalan menuju-Nya,
dan sibuk membangun istana
di atas pasir yang akan runtuh?
Dalam kitab para pecinta Ilahi,
aku membaca kisah fana’ dan baqā,
tentang hilangnya diri
dan kekalnya dalam-Nya.
Dan aku melihat itu
dalam serpihan kisahnya:
ia hilang dari pujian,
namun hadir dalam doa-doa yang tak terdengar.
Ia lenyap dari gemerlap dunia,
namun menetap
dalam keabadian makna.
Wahai waktu,
engkau saksi yang tak pernah tidur,
jawablah aku dengan jujur:
apakah rahim sejarah
masih mampu melahirkan jiwa seperti itu?
Ataukah ia adalah ayat terakhir
yang diturunkan untuk zaman ini,
dan kita adalah umat
yang tak lagi mampu membacanya?
Jika memang masih ada,
tunjukkan pada kami jalannya,
agar kami tak tersesat
dalam riuh yang hampa.
Namun jika tak ada,
maka biarkan pertanyaan ini
menjadi dzikir yang menyakitkan:
Apakah ada?
Atau sebenarnya,
yang telah tiada bukan dirinya,
melainkan kemampuan kita
untuk menjadi hamba
yang mengenal Tuhannya.
Ya Allah,
jika ia telah kembali kepada-Mu,
terimalah ia
dalam rahmat yang tak berbatas.
Tempatkan ia di antara mereka
yang Engkau cintai,
yang Engkau panggil dengan lembut:
“Fadkhulī fī ‘ibādī,
wadkhulī jannatī.”
Dan bagi kami yang masih tinggal,
ajarkan kami
bagaimana berjalan tanpa jejak,
bagaimana memberi tanpa nama,
dan bagaimana mencintai-Mu
tanpa syarat.
Agar suatu hari nanti,
ketika kami pun dipanggil pulang,
langit tak lagi bertanya:
“Apakah ada?”
melainkan berkata dengan tenang,
“Inilah mereka
yang belajar menjadi.”
Gorontalo, 13 Juli 2026.
