Banner IDwebhost
Banner IDwebhost
Kolom  

Jabatan Tidak Membuat Orang Pintar, Ia Hanya Membuat Orang Lain Lebih Sopan

Oleh :  Taufiq Fredrik Pasiak

(Penyuka Kopi dan Travelling)

Saya kira ada satu perubahan menarik ketika seseorang mendapat jabatan.

Tetiba leluconnya terasa lebih lucu. Gagasannya lebih sering disebut bagus. Orang yang dulu biasa memotong pembicaraannya sekarang mendengarkan sampai selesai. Pesan WhatsApp nya lebih cepat dibalas.

Ketika ia masuk ruangan, orang berdiri dan menyapa.

Saya pernah berada dalam keadaan seperti itu. Rasanya tentu menyenangkan. Hanya saja ada satu hal yang perlu kita ingat. Mungkin kita tidak berubah menjadi lebih hebat. Orang-orang hanya berubah cara memperlakukan kita.

Jabatan memang aneh. Kemarin kita menyampaikan sebuah gagasan dan tiga orang langsung membantah. Hari ini gagasan yang hampir sama disampaikan dari kursi yang lebih tinggi, kini orang mulai mencatat.

Bahkan ada yang mengatakan, “_Ini pemikiran yang luar biasa.”_

Kalau tidak hati-hati kita bisa salah mengambil kesimpulan. Kita mengira kualitas pikiran meningkat seiring naiknya jabatan. Padahal bisa jadi yang meningkat hanya kehati-hatian orang untuk mengatakan bahwa gagasan kita biasa saja.

Saya kadang membayangkan betapa banyak ide buruk bertahan hidup hanya karena dilahirkan dari mulut orang yang mempunyai jabatan.

Psikologi kekuasaan sudah lama memperingatkan soal ini. Dacher Keltner, Deborah Gruenfeld dan Cameron Anderson pada 2003 menjelaskan bahwa _kekuasaan dapat mengubah cara seseorang memperhatikan lingkungan sosialnya._

Orang yang mempunyai kuasa cenderung lebih bebas bertindak, sementara orang yang kuasanya lebih kecil menjadi lebih waspada terhadap ancaman dan konsekuensi.

Tentu, Saya tidak ingin membawa Anda terlalu jauh ke teori. Yang menarik bagi saya justru akibat sehari-harinya. Begitu jarak kekuasaan melebar, orang mulai memilih kata. Kritik diperhalus. Ketidaksetujuan ditunda. Beberapa hal bahkan tidak lagi disampaikan.

Celakanya, orang yang duduk di atas bisa membaca semua kesopanan itu sebagai persetujuan.

Saya pernah melihat rapat seperti itu. Pimpinan menyampaikan pendapat cukup panjang. Semua diam. Ia kemudian bertanya, “Setuju?” Beberapa kepala mengangguk. Rapat selesai. Begitu pintu tertutup dan orang mulai berjalan ke luar, diskusi yang sebenarnya justru dimulai. “Tadi sebenarnya saya kurang setuju.” Yang lain menjawab, “Saya juga.” Saya selalu tertarik dengan kejadian seperti ini.

Kalau lima orang tidak setuju tetapi semuanya memilih diam, sang pemimpin pulang membawa informasi yang salah. Ia merasa mendapat dukungan.

Padahal yang ia dapat mungkin hanya _*kesopanan*_

Lebih buruk lagi kalau kejadian itu berulang. Lama-lama ia bukan hanya kehilangan kritik. Ia kehilangan kenyataan.

Ada godaan lain yang lebih halus. Semakin tinggi jabatan kita, semakin mudah mengira perlakuan istimewa sebagai ukuran kualitas diri. Orang menunggu kita datang. Kursi disiapkan. Nama disebut pertama. Pendapat diminta. Foto kita dipasang.

Kita bicara lebih lama daripada orang lain dan anehnya tidak ada yang memotong. Lama-lama semua itu terasa normal.

Pada kondisi begini saya kira seseorang perlu mempunyai sedikit kemampuan menertawakan dirinya sendiri.

Jabatan memang memberi kewenangan. Tetapi ia tidak otomatis menambah IQ. Tidak membuat humor kita lebih lucu. Tidak membuat semua pendapat kita menjadi benar. Bahkan tidak menjamin orang yang tersenyum di depan kita benar-benar setuju.

Karena itu saya semakin menghargai orang yang perilakunya kepada saya tidak terlalu berubah ketika jabatan berubah. Orang seperti ini kadang menjengkelkan, tetapi berguna.

Ia masih berani mengatakan, “Saya rasa itu kurang tepat.” Ia tidak merasa wajib tertawa pada setiap lelucon. Ia tidak memuji semua gagasan. Dan kalau saya keliru, ekspresi wajahnya kadang sudah memberi tahu sebelum ia bicara.

Saya justru membutuhkan orang seperti itu. Sebab _salah satu kemewahan paling berbahaya dari kekuasaan adalah kemampuan untuk menyingkirkan semua orang yang membuat kita tidak nyaman._

Kalau itu dilakukan cukup lama, yang tersisa memang orang-orang menyenangkan. Sayangnya, cermin sudah tidak ada.

Maka kalau suatu hari jabatan Anda semakin tinggi dan semakin sedikit orang yang membantah Anda, jangan buru-buru merasa kemampuan Anda sudah semakin hebat. Periksa kemungkinan lain. Bisa jadi orang-orang hanya semakin berhati-hati.

Kalau semua lelucon Anda sekarang lucu, semua gagasan dianggap cemerlang dan setiap keputusan disambut tepuk tangan, mungkin ada baiknya sesekali turun dari kursi itu dan mendengarkan percakapan setelah rapat selesai. Jabatan memang dapat membuat ruangan menjadi lebih sopan kepada kita.

Masalahnya, kalau terlalu lama menikmati kesopanan itu, kita bisa lupa bahwa penghormatan kepada jabatan tidak selalu sama dengan penghormatan kepada orang yang mendudukinya.

Dan pada hari jabatan itu selesai, kita baru tahu mana yang sebenarnya mereka hormati.

_Alfamart belakang UPNVJ. Subuh dingin 05.00_

 

Bacaan lanjut

Keltner, D., Gruenfeld, D. H., & Anderson, C. (2003). Power, approach, and inhibition. Psychological Review, 110(2), 265–284. DOI: 10.1037/0033-295X.110.2.265.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *