Gorontalo, Medgo.ID — Universitas Negeri Gorontalo (UNG) kembali mencatat tonggak penting dalam pengembangan pendidikan tinggi di kawasan timur Indonesia. Melalui Fakultas Kedokteran, UNG resmi membuka Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif yang menjadi bagian dari Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) dan Subspesialis untuk wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara.
Peluncuran program tersebut dihadiri oleh Khairul Munadi, Gusnar Ismail, Tomas Mopili, serta Rektor UNG Eduart Wolok. Kegiatan tersebut juga disaksikan civitas akademika UNG dan para pemangku kepentingan di bidang pendidikan dan kesehatan.
Rektor UNG Eduart Wolok menyebut pembukaan program tersebut sebagai capaian yang sangat istimewa bagi UNG. Menurutnya, kepercayaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi merupakan kebanggaan sekaligus tanggung jawab besar bagi civitas akademika.
“Yang menjadi semakin istimewa karena UNG menjadi prodi kedokteran termuda yang dipercaya membuka pendidikan dokter spesialis. Kepercayaan ini harus dijawab dengan kerja sungguh-sungguh,” ujarnya.
Eduart menjelaskan, pembukaan prodi spesialis ini sangat strategis dalam menjawab kebutuhan tenaga dokter spesialis di Gorontalo dan kawasan Teluk Tomini. Selama ini akses pendidikan dokter spesialis di wilayah timur Indonesia masih terbatas dengan jumlah institusi penyelenggara yang relatif sedikit, seperti Universitas Hasanuddin dan Universitas Sam Ratulangi.
Kehadiran PPDS di UNG diharapkan dapat mempercepat pemenuhan kebutuhan tenaga kesehatan spesialis di daerah yang masih mengalami kekurangan.
“Semoga pembukaan Prodi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif ini menjadi awal bagi pengembangan program spesialis lainnya di masa depan. Dengan demikian UNG dapat berkontribusi lebih besar dalam mencetak dokter spesialis yang siap mengabdi di wilayah timur Indonesia,” tambah Eduart.
Sementara itu, Dirjen Pendidikan Tinggi Kemdiktisaintek Khairul Munadi menyampaikan apresiasi atas capaian yang diraih UNG. Menurutnya, pembukaan program pendidikan dokter spesialis tersebut sejalan dengan komitmen pemerintah untuk memperluas akses pendidikan dokter spesialis di Indonesia.
Ia menyebut pemerintah menargetkan pembukaan 148 program PPDS pada 57 fakultas kedokteran di seluruh Indonesia sebagai bagian dari upaya memperkuat layanan kesehatan nasional.
Dengan hadirnya program ini, UNG diharapkan semakin memperkuat perannya sebagai pusat pengembangan sumber daya manusia di bidang kesehatan di kawasan timur Indonesia. Kehadiran program spesialis tersebut juga diharapkan berdampak langsung pada peningkatan kualitas layanan kesehatan masyarakat di Gorontalo dan wilayah sekitarnya.(*)













