Bone Bolango, MEDGO ID — Gagal panen masih menjadi ancaman bagi para petani. Hamzah Podungge, salah seorang petani, mengungkapkan bahwa keberhasilan pertanian sangat bergantung pada ketekunan dan pemeliharaan lahan yang dilakukan sejak awal hingga masa panen.
Hasilnya melimpah atau rugi semua tergantung kepada kemauan petani dalam merawat dana menjaga sawah yang sudaha ditanaminya. Rugi dong bila, sudah habiskan banyak uang untuk menongkosi tapi tak serius ditekuni, hasilnya jauh dari harapan.
“Usaha ini tergantung para petaninya. Kalau petaninya rajin pasti akan berhasil,” ujar Hamzah, Kamis (25/09).
Menurutnya, gagal panen biasanya terjadi akibat lemahnya pemeliharaan, seperti pemupukan yang tidak teratur, penyemprotan hama yang terlambat, serta kurangnya kebersihan lahan. Tanaman yang tidak dirawat secara intensif akan lebih mudah terserang penyakit, terutama menjelang panen.

Hamzah mencontohkan pengalaman tahun lalu, di mana tanaman yang awalnya tumbuh baik justru rusak akibat serangan penyakit saat memasuki masa panen. Karena itu, ia menekankan pentingnya pemantauan rutin setiap hari agar risiko gagal panen bisa diminimalisir. Bila hal ini tak dilaksanakan oleh petani, siap – siap dengan resiko biaya yang lebih besar akibat ketelodoran, yang dapat berdamapak bagi menurunya produksi.
“Begitu juga dengan gagal panen. Kita harap tidak akan terjadi, karena cuma modal atau pengeluaran kita yang habis dan selama masa pemeliharaan kita juga dianggap gagal,” jelasnya.
Hamzah menambahkan, bertani bukanlah pekerjaan mudah. Selama empat bulan masa tanam hingga panen, petani banyak mengeluarkan biaya, mulai dari pupuk hingga obat-obatan. Karena itu, kesabaran, ketekunan, dan kesiapan menghadapi kendala menjadi kunci utama agar panen berhasil. (IH)













