Kota Gorontalo, MEDGO.ID – Peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-32 di Provinsi Gorontalo yang digelar di Outdoor City Mall pada Jumat (11/07), menjadi momen penting bagi Gubernur Gorontalo, Gusnar Ismail, untuk menyuarakan sejumlah persoalan krusial yang masih dihadapi oleh keluarga-keluarga di daerah.
Dalam sambutannya, Gubernur menekankan perlunya langkah konkret dan keterlibatan langsung seluruh pihak dalam mengatasi lima masalah utama yang dinilainya paling mendesak saat ini.
“Harganas jangan hanya menjadi acara seremonial. Momen ini harus menjadi pengingat kita untuk fokus pada aksi nyata. Menghidupkan masalah krusial tidak cukup dari ruang-ruang rapat, tetapi harus turun langsung ke lapangan,” tegas Gusnar di hadapan peserta kegiatan.
Masalah pertama yang disampaikan adalah tingginya angka stunting. Gubernur mengungkapkan bahwa selama ini penanganan stunting lebih banyak bersifat simbolis, tanpa tindak lanjut jangka panjang.
“Saya pernah ikut acara stunting, dibagikan biskuit dan susu sekali minum, setelah itu selesai. Bagaimana mau naik berat badan? Seharusnya susu itu disebarkan dengan kalengnya agar ada keinginan,” kata Gusnar, mencontohkan praktik yang tidak efektif dalam menangani kasus stunting.
Isu kedua adalah minimnya pemahaman orang tua terhadap pola asuh anak di era digital. Fenomena anak-anak yang sudah memegang gawai tanpa pengawasan menjadi kekhawatiran tersendiri karena dapat memengaruhi perkembangan anak secara negatif.
Sementara itu, masalah ketiga yang diangkat Gusnar ialah kurangnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan, yang menurutnya masih menjadi tantangan budaya di tengah masyarakat.
Masalah keempat adalah rendahnya kualitas hidup para lansia, termasuk kecenderungan beberapa keluarga yang meninggalkan tanggung jawab kepada institusi.
“Ada fenomena lansia yang dititipkan di panti jompo dan dilepas 100% oleh keluarga yang tidak peduli lagi. Ini adalah pekerjaan rumah kita bersama untuk menata ulang sistem keluarga kita,” ungkap Gusnar.
Adapun isu kelima yang dinilai genting oleh Gubernur adalah tingginya keterlibatan remaja dalam protokol narkoba, yang menurutnya menjadi alarm keras bagi semua pemangku kepentingan.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala BKKBN Provinsi Gorontalo, Diano Tino Tandaju, turut menyampaikan aksi-aksi nyata lembaganya, di antaranya wisuda 300 lansia dari program Sekolah Lansia dan penguatan layanan berbasis kolaborasi.
“Saya mohon dukungan dari perguruan tinggi, organisasi profesi seperti IDI dan IBI, serta seluruh elemen masyarakat untuk berkolaborasi. Semoga Harganas menjadi tonggak kebangkitan gerakan keluarga Indonesia, sejalan dengan semangat ‘Gorontalo maju bersama keluarga’ untuk Indonesia yang lebih maju,” tutup Diano. (Adv/IH)













