Gorontalo, MEDGO.ID – Universitas Negeri Gorontalo (UNG) menetapkan spesialis anestesi sebagai program pertama dalam pembukaan Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis.
Menurut Rektor UNG Eduart Wolok, keputusan tersebut diambil berdasarkan kesiapan tenaga pengajar dan ketersediaan konsultan subspesialis yang dinilai paling matang dibandingkan bidang lainnya.
“Saat ini yang paling siap dari sisi tenaga pengajar dan keberadaan konsultan subspesialis adalah anestesi. Jadi tidak mungkin membuka yang kita sendiri belum siap,” tegas Eduart dalam konferensi pers usai peluncuran program, Selasa (03/03).
Ia mengungkapkan, berdasarkan hasil pemetaan internal, sebenarnya terdapat beberapa bidang lain yang relatif siap. Namun, mengingat Fakultas Kedokteran UNG baru berjalan sekitar tujuh tahun, pihak kampus memilih untuk memulai dengan program yang benar-benar siap dijalankan secara optimal.
“Kita ingin ini dijalankan dalam kondisi sangat siap. Setelah terlaksana dengan baik, baru kemudian kita mengikuti jejak bidang lainnya,” ujarnya.
Eduart menekankan bahwa pembukaan program dokter spesialis tidak semata-mata didasarkan pada keinginan institusi, tetapi harus mempertimbangkan kesiapan sumber daya manusia dan infrastruktur. Ia mengingatkan bahwa pendidikan dokter berkaitan langsung dengan keselamatan pasien sehingga tidak bisa dilakukan secara tergesa-gesa.
Meski kesiapan internal dinilai matang, pada tahap awal UNG tetap berada di bawah pembinaan Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin yang telah lebih lama menyelenggarakan program pendidikan dokter spesialis. Langkah ini dilakukan untuk menjaga standar mutu dan kualitas lulusan.
“Kita tetap menjaga kualitas unggul dari dokter spesialis yang dihasilkan. Pendidikan dokter ini menyangkut keselamatan, tidak main-main,” tambahnya.
Ke depan, UNG menargetkan pembukaan program spesialis lain akan dilakukan secara bertahap, seiring dengan kesiapan tenaga pengajar serta pemenuhan fasilitas rumah sakit. Pihak universitas juga berharap Rumah Sakit Pendidikan UNG dapat segera terwujud guna mendukung pengembangan program pendidikan dokter spesialis di masa mendatang. (IH)













