Silat Pagar Menanti di Nagari Koto Rajo Pasaman

Potret, Silat Pagar Menanti di Nagari Koto Rajo Kecamatan Rao Utara Kabupaten Pasaman, (foto lst)

Oleh : Muhammad Ilham, Kamis 21 Oktober 2021

Pasaman, MEDGO.ID — Nagari Koto Rajo berada di Kecamatan Rao Utara, Kabupaten Pasaman, Provinsi Sumatra Barat. Dengan luas Nagari: 224, 09 kilometer persegi, atau 37, 43 persen dari luas wilayah Kecamatan Rao Utara.

Dengan wilayah yang begitu luas tidak heran Nagari Koto Rajo banyak memiliki adat dan kebudayaan yang menarik sebagai pendobrak wisatawan seperti adanya kebudayaan silat yang menjadi daya tarik tersendiri, Kebudayaan silat yang ada di Nagari Koto Rajo antara lain silat pagar menanti.

Silat pagar menanti adalah jenis bela diri yang berasal dari Nagari Koto Rajo. silat pagar menanti ini sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda-Jepang menurut hasil wawancara saya dengan narasumber yaitu bapak Aries guru yang mengajar silat pagar menanti mengatakan.

Bahwa pada zaman dulu, ada seorang laki-laki yang bernama Niniak Usin Tambon dari kampung Koto Rajo pergi merantau ke Kota Binjai atau daerah Sumatra Utara, lalu di sana Niniak Usin Tambon tersebut belajar silat yang dikenal dengan silat pagar menanti, setelah sekian lama belajar, akhirnya Niniak Usin Tambon bisa menguasai pergerakan silat yang ia pelajari tersebut.

“Kemudian ia akhirnya pulang ke kampung halamannya sendiri dan mengajarkan silat pagar menanti ini pada masyarakat Koto Rajo”.

Silat pagar menanti memiliki filosofi seperti pepatah Minang yaitu musuh indak dicari basobok pantang lari berarti setiap orang yang belajar silat pagar menanti di ajarkan untuk menahan diri dari emosi dan sabar terhadap musuh, kemudian silat pagar menanti memiliki makna dibalik namanya sendiri yaitu silat yang digunakan untuk menanti musuh dan tidak boleh mencari musuh.

Pada zaman dulu setiap masyarakat Koto Rajo yang ingin belajar silat pagar menanti, harus mengikuti syarat dan ketentuan yang dianjurkan oleh guru pengajar agar ilmu silat yang di pelajari itu mustajab. Anak dibawah umur dilarang keras untuk mengikuti silat ini, disebabkan belum bisa mengontrol emosi diri mereka sendiri.

Silat pagar menanti memiliki ikatan dengan syariat Islam bahwa tegak pertama kita dalam belajar atau tegak dasar seperti Huruf Alif, dan tegak di Huruf Lam yaitu dengan tegak mengangkang.

Ada banyak syarat-syarat atau ketentuan yang harus dipenuhi murid dalam belajar silat pagar menanti, dimulai dari tempat berlatih atau yang biasa disebut dengan gelanggang harus jauh dari keramaian dan menghadap kiblat, dilakukannya berwudu sebelum memulai latihan.

Dan waktu pelaksanaan latihan dimulai sesudah isya sampai tengah malam, kemudian syarat-syarat terakhir yang harus dipenuhi oleh murid tersebut adalah, kain putih, pisau, benang penjahit, buah pinang, daun sirih dan sedekah guru sesuai harga yang disepakati murid.

Diantaranya syarat-syarat tersebut memiliki makna tersendiri antara lain:

1. Kain putih

Melambangkan kebersihan, belajar silat ini harus dengan hati yang bersih dan tidak emosi dibarengi dengan sabar karena jenis silat ini hanya menanti musuh dan tidak mencari musuh.

2. Pisau

Melambangkan ketajaman, gunanya setiap berhadapan dengan musuh sekalipun mereka menyerang walaupun dari arah mana saja dapat terlihat jelas.

3. Benang penjahit

Melambangkan terikat nya silaturahmi antara murid dengan murid dan murid dengan guru.

4. Buah Pinang

Melambangkan supaya setelah mempelajari silat ini membuat sikap dan attitude dalam berbicara sopan.

5. Daun sirih

Melambangkan bahwa seperguruan itu sudah diikatkan sebagai keluarga.

6. Sedekah guru

Melambangkan sebagai tanda terima kasih kita kepada guru silat yang sudah mengajarkan dengan tulus dan ikhlas.

Gerakan-gerakan dasar dalam mempelajari silat pagar menanti ini suatu gerakan silat pagar menanti dibagi dengan tiga tahap yaitu, mundur, maju dan tangkap.

Di setiap tahap tersebut memiliki pecahan gerakan yang berbeda-beda sebagai berikut:

1. Tahap Mundur (elak)

Dalam tahap mundur ini gerakan yang dipelajari elakan ketika di serang musuh. Tahap mundur terdiri dari sebagai berikut:

1. Setengah segi

Silat dengan mengelakkan tinju lawan dan berpindah posisi seperti segitiga ke arah lawan.

2. Kelapa condong

Kelapa condong adalah gerakan dengan menghentikan serangan lawan dengan menekan lutut lawan.

3. Tahap Maju

Tahap maju adalah gerakan dengan menangkis dan langsung menyerang lawan, ujian dalam belajar silat ketika sudah di tahap maju banyak yang dari mereka gagal karena saat di tahap maju banyak yang merasa hebat dan tidak mampu mengendalikan dirinya dan membuat silat itu tidak melekat dalam dirinya. Pada tahap ini banyak terdiri dari gerakan-gerakan sebagai berikut:

1. Hentak atau Hantam

Gerakan dengan mengelakkan serangan lawan dan maju dengan menghentakkan siku kebagian kepala lawan dengan posisi kaki menyamping dari lawan.

2. Potong langkah

Gerakan menyerang lawan dengan menyapu titik lemah kaki lawan dan membuat lawan jatuh yaitu dengan menyapu tumit bagian belakang musuh.

3. Tahap Tangkap (membunuh lawan atau mematikan lawan) Gerakan tahap akhir gerakan yang dilakukan apabila sudah terdesak atau suasana dalam bahaya, karena gerakan ini bisa membuat musuh lumpuh dalam sekali serangan, tetapi dibalik mematikannya gerakan tahap tangkap ini, terdapat cobaan kepada murid-murid tersebut yang telah sampai pada tahap tangkap ini.

Seperti banyak dari mereka yang belajar tidak lagi mau datang dan merasa bosan sehingga hanya beberapa yang sanggup melalui proses tahap tangkap.

Gerakan-gerakan pada tahap tangkap yaitu:

1. Tangkap maut

Gerakan dengan mengunci leher lawan dengan tangan dan membuat tercekik sehingga gerakan ini dapat membuat musuh lumpuh dalam sekali serangan.

2. Sandang

Gerakan dengan mengambil tangan lawan dan mematahkannya dengan menggunakan lutut kita sendiri.

Itulah proses-proses gerakan yang dipelajari dalam silat pagar menanti. Tetapi hanya beberapa yang saya jelaskan dengan semua total gerakan berjumlah 60 gerakan.

Keunikan yang terdapat dalam silat pagar menanti dapat digunakan dalam gerakan tari penyambutan tamu yang datang ke Nagari Koto Rajo. Misalnya penyambutan Bupati, Gubernur, dan perayaan Idul Fitri.

Gerakan yang digunakan dalam penyambutan tamu tersebut biasanya dipakai gerakan tahap maju karena pada gerakan tahap maju, sudah menjadi gerakan paling komplet dengan gerakannya yang indah

Dan menarik perhatian untuk ditonton, juga dapat menjadikan gerakan tari yang selaras, seiring berjalannya waktu cara yang tepat agar silat pagar menanti ini tetap bertahan sampai saat sekarang.

Yaitu dengan cara mengenalkan kepada generasi penerus bahwa, belajar silat itu sangat penting, selain untuk pelindung diri, silat itu sendiri juga tidak hilang dan tetap bertahan sehingga kebudayaan yang ada tetap terjaga.

Penulis: Muhammad Ilham Mahasiswa Sastra Daerah Minangkabau Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalah. [*]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here