Berita  

Puluhan Penyair Perempuan Berkumpul di Jogja, Kunni: Semoga Berarti Bagi Pertiwi

YOGYAKARTA, MEDGO.ID — Komunitas Sastra Penyair Perempuan Indonesia (PPI) yang dipimpin Kunni Masrohanti, kembali menggelar kegiatan Pulang ke Kempung Tradisi (PKT). Kali ini dilaksanakan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), 1-3 Juli 2022.

“Pulang ke Kampung Tradisi, bersama merawat tradisi dengan jalan puisi. Mengapa PKT kali ini dilaksanakan di Jogja, karena Jogja ini istimewa dan ini atas kesepakatan bersama keluarga besar PPI. Semoga Memberi arti bagi pertiwi, ” kata Kunni, perempuan kelahiran Siak Sri Indrapura, Riau ini.

Disebutkan Kunni, PKT ini merupakan yang kedua sejak PPI berdiri akhir 2018. PKT pertama dilaksanakam di Garut Jawa Barat awal tahun 2020 dan kedua di Jogja tahun 2022. Tahun 2021 tidak dilaksanakan karena pandemi.

Mengapa kegiatan ini disebut Pulang ke Kampung Tradisi? Kata Kunni karena kembali kepada awal niat berdirinya PPI yang diinisiasinya tersebut, yakni, mengangkat, menjaga, merawat, dan mewariskan kembali tradisi (kearifan lokal) khususnya yang berkaitan dengan perempuan, melalui jalan puisi.

“Sesuai niat awal berdirinya PPI, yakni mengaktualisasikan potensi diri perempuan yakni sebagai pewaris dan mewariskan, maka kami ingin mencatat kembali kekayaan Indonesia yakni kearifan lokalnya melalui puisi. Pulang ke Kampung Tradisi merupakan kegiatan obervasi, riset. Setelah kegiatan ini dilaksanakan, kami semua akan menulisnya dalam puisi, dicatat, dan dibukukan.” kata Kunni.

Diwarnai Berbagai Kegiatan
Berbagai bentuk acara mewarnai kegiatan ini. Antara lain, Jogja Berpuisi, diskusi, penanaman pohon, edukasi kearifan lokal dan sejarah, serta peluncuran dan bedah buku.

Di hari pertama, Jumat (1/7), peluncuran dan bedah buku Transformasi; Perpustakaan Desa dan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) di Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman, kunjungan ke Perpustakaan Daerah (Perpusda) Kabupaten Sleman. Selain PPI, acara yng diinisiasi TBM Temon dan Gowes Literasi ini juga dihadiri para penulis buku tersebut dan berbagai komunitas literasi di Sleman.

BACA JUGA :  Gempa Bumi Guncang Bolang Uki Bolsel 5.7 SR, ini Daerah Terdampak Sampai Kota Gorontalo

Usai peluncuran buku, kegiatan dilanjutkan dengan kunjungan ke Perpusda Sleman. Di sini, PPI berkolaborasi dengan Perpusda, khususnya terkait literasi dan dukungan yang diberikan selama kegiatan PKT berlangsung.

Kegiatan dilanjutkan dengan menghadiri jamuan makan di Restoran Liwet Asep Stroberi di Kaliurang. Puluhan anggota PPI yang hadir bukan hanya disuguhi makanan khas Sunda-Jawa tapi juga makna dan asal mula makanan itu bermula. Istimewanya lagi, makan hari itu diiringi dengan musik lumpang oleh kaum ibu, aksi lukis dan tarian khas Jawa oleh penari asal Kordoba, Kristina.

Malamnya, PPI menggelar diskusi Pulang ke Kampung Tradisi dengan tema ‘Merawat Tradisi dengan Puisi’. Diskusi yang menghadirkan nara sumber Sosiawan Leak penyair asal Solo, Hamdy Salad penyair asal Jogja dan Kunni sendiri, berjalan santai, asyik dan penuh catatan serta masukan. Diskusi ini dipandu oleh Jauza Imani penyair asal Lampung.

Pada hari kedua, Sabtu (2/7), kegiatan diawali dengan observasi dan eduksi kearifan lokal di Watu Lumbung. Di sini, seluruh peserta mendapatkan pengetahuan tentang tembang dan berbagai kuliner. Bukan hanya teori tapi juga praktek. Mulai proses masak sego degan, wedang sereh dan ikan pedak.

Di Watu Lumbung ini, peserta juga mendapat bonus sket wajah oleh seniman setempat, Warisman, dan oleh-oleh lainnya. Istimewanya lagi, di tempat ini dilaksanakan penanaman pohon.

Seluruh kegiatan di Watu Lumbung diawali dengan cerita dan doa yang dipandu oleh seniman sekaligus tokoh budaya Jogja, Gus Nas. Sedangkan seluruh kegiatan digagas dan dikomandoi oleh Mbah Boy. Gus Nas sendiri hadir sejak hari pertama tepatnya saat jamuan makan di Restoran Liwet Asep Stroberi.

BACA JUGA :  Gobel Minta Pemda Kalbar Serius Membangun Ekonomi Kawasan Perbatasan

Usai, mengikuti edukasi berbagai kearifan lokal Jogja di Watu Lumbung, seluruh pesrta mengunjungi Galeri Gus Nas. Di sini peserta dijamu dengan makanan khas berupa tiwul dan dawet, serta melihat kemegahan dan keindahan lukisan yang ada di galeri tersebut.

Perjalanan dilanjutkan dengan mengunjungi Kraton. Sego degan dan ikan pedak yang sudah diikuti proses pembuatannya di Watu Lumbung, disajikan di tempat ini. Lagi-lagi Mbah Boy berperan penting di sini. Dengan semangat dan ramah, Mbah Boy tidak bosan-bosannya menjelaskan setiap sajian yang dihidangkan.

Taman Sari, menjadi lokasi kunjungan berikutnya. Di sini, seluruh peserta mendapat pengetahuan tentang keputren, kehidupan perempuan kraton dan seluruh kisah yang pernah terjadi di tempat tersebut.

Seharian mengelilingi dan menggali khazanah kearifan lokal dan sejarah yang ada di Jogja, tidak membuat puluhan peserta ini lelah. Kegiatan lanjut di Kampung Caturharjo, Kabupaten Sleman, tepatnya RT 04 RW 13.

Di sini seluruh peserta menikmati makan malam di angkringan dengan suguhan pertunjukan seni oleh masyarakat setempat. Ratusan masyarakat bersama perangkat dusun dan desa, hadir bersama mengelilingi panggung sederhana tapi istimewa.

Beruntungnya lagi, kegiatan yang dilaksanakan PPI berkerjasama dengan Angkringan Pasinaon di bawah komando Rahmadi Gunawan alias Mbah Gun ini, dihadiri Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa.

Banjir Puisi
Salah satu kegiatan besar di dalan iven Pulang ke Kampung Tradisi kali ini adalah Jogja Berpuisi. Di setiap kegiatan, setiap hari selama kegiatan berlangsung, selalu diwarnai dengan pembacaan puisi. Bukan hanya oleh peserta PPI  tapi juga masyarakat setempat.

BACA JUGA :  Gobel Minta Pemda Kalbar Serius Membangun Ekonomi Kawasan Perbatasan

Pembacaan puisi memeriahkan peluncuran dan bedah buku, jamuan makan di restoran Liwet Asep Stroberi, diskusi ‘Merawat Tradisi dengan Puisi’, edukasi kearifan lokal Watu Lumbung, dan malam di angkringan Desa Caturharjo.

“Kegembiraan dan keakraban selama PKT berlangsung menjadi hal penting, tapi yang lebih penting adalah karya puisi yang dihasilkan dalam perjalanan ini. PR besarnya di sini. Karena tujuannya memang karya puisi yang dilahirkan dari akar tradisi,” kata Kunni lagi.

Kunni juga mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang mendukung terlaksananya PKT di Jogja, seperti TBM Temon, The Temon, Dinas Pendidikan Sleman, Dinas Perpustakaan Sleman, pengelola Watu Lumbung, Founder Restoran Liwet Asep Stroberi, Galeri Gus Nas, dan terkhusus panitia pelaksana.

“Atas keja keras panitia atau tim PPI Jogja Pulang ke Kampung Tradisi ini berjalan lancar. Terimakasih Mbak Asmariah atau Asma Temon yang juga pemilik TBM Temon selaku ketua panitia bersama Mbak Ana Ratri dan Mbak Yoza. Kerja keras yang luar biasa. Terimakasih juga kepada seluruh pendukung yang tidak bisa kami sebutkan satu persatu,” kata Kunni.

Selaku ketua panitia, Asma Temon, mengaku tidak bisa berkerja dengan baik tanpa dukungan dan kerja keras tim panitia yang lain.

“Saya tidak bisa berkerja tanpa dukungan tim panitia yang lain, termasuk Forum Anak dan mahasiswa yang banyak membantu. Alhamdulillah, segala hal menjadi pengalaman dan pelajaran. Terimakasih buat semua yang mendukung kegiatan ini,” kata Asma.

Hadir dalam PKT di Jogja tahun ini peserta dari Aceh, Bengkulu  Riau, Lampung, Bekasi, Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah.(*)