Sorot  

Biaya Masuk Fakultas Kedokteran UNG Ratusan Juta. Ini Alasannya

Ngopi Bareng Sambil Diskusi dengan Rektor Unversitas Negeri Gorontalo (UNG) Dr Eduart Wolok, ST MT, yang dipandu oleh Hamid Tome, SH MH (Foto Ridwan Mooduto/MedgoID)

Gorontalo, Medgo.ID — Mahalnya biaya masuk perguruan tinggi, tak terkecuali Fakultas Kedokteran UNG (Universitas Negeri Gorontalo), berkisar 175 – 400 juta untuk satu kursinya.

Awalnya, perbincangan mengenai mahalnya biaya kuliah, di WAG Forum Warkop Diskusi Gorontalo, menjadi sorotan, terlebih pasca OTT Rektor Unila yang terjaring KPK.
“Semua universitas menjadi sorotan publik, pasca tertangkapnya Rektor Unila,” kata Dr Eduart Wolok, ST., MT selaku Rektor, dalam kesempatan Dialog yang digagas Civitas Akademik UNG, Senin (29/08/2022).

Dugaan anggota WAG semakin menjadi, sebab transaksi akursi calon mahasiswa Lampung terbilang fantastis, terutama Fakultas yang peminatnya tinggi, sehingga menjadi ajang jual beli yang dilakukan oleh oknum tak bermoral, sehingga mencederai lembaga pendidikan tinggi di Indonesia.

Tentu UNG kena imbasnya, membuat berbagai group medsos hangat dibicarakan. Diduga tak jauh berbeda dengan Unila yang terlanjur mencemari jagat pendidikan nasional.

Ditambah lagi, orangtua calon mahasiswa Fakultas Kedokteran UNG sempat, mengubar ubek-uniknya diakui media sosial. Semakin memanaskan bahan perbincangan group.

Agar tak simpang siur, informasi seputar biaya pendidikan di kampus Merah Maron Kebanggaan Gorontalo, mau tidak mau, Rektor Dr Eduardo Wolo, ST, MT, turun langsung menjelaskan, kepada masyarakat dalam forum yang tatap muka, atau istilah kerenya, offline alias bukan di dalam group medsos.

Secara blak-blakan, Eduart membeberkan yang dipandu oleh moderator Hamid Tome, SH., MH dosen Fakiltas Hukum UNG.

Menurut Rektor sengaja ia membuka ruang publik dalam kesempatan ini, Senin (29/08/2022), di Warkop Amal Kota Gorontalo, dengan pertisipan dari beragam kalangan, yang masuk dalam anggota group, serta pengunjung Warkop.

Diawal Rektor menjelaskan model penerimaan mahasiswa, mulai dari prestasi, UTBK ( ujian tulis basis komputer), dan mandiri.

Masing-masing formasi memiliki persyaratan yang berbeda, dan siapapun mendapatkan peluang mengikuti, tanpa pandang status sosial.

Untuk jalur prestasi tentu jumlahnya terbatas, dan jalur UTBK berdasarkan pasinggrade tertentu. Sehingga masih saja ada yang tak lulus melalui jalur tersebut, peluang jalur mandiri menjadi pilihan dengan konsekuensi yang harus dipenuhi, termasuk membayar biaya pembangunan jumlah tertentu diseruak fakultas.

Memang Fakultas kedokteran menjadi sorotan, sebab selain biayanya mahal, jumlah mahasiswa yang asli putra / putri Gorontalo kuotanya sedikit, padahal, tujuan membuka fakultas ini, agar peluang orang daerah terbuka lebar.

“Ada pertanyaan besar yang selalu jadi pertanyaan banyak orang, bukankah kampus negeri sudah dibiayai pemerintah, kok masih ada pungutan biaya,” ujar Ketua ISNU Provinsi Gorontalo.

“Kita tak boleh hanya melihat jalur mandiri, masih ada jalur prestasi ukurannya rapor-rapor. Sementara UTBK juga ada jalur penerimaan,” tandasnya.

“Contohnya, melaui UTBK khusus Fakultas kedokteran dengan jumlah kursi 20, putra Gorontalo hanya berhak mendapatkan 3 kursi pilihan pertama. Proses seleksi ini dibuka secara nasional, dari Sabang sampai Merauke, tak terkecuali. Jangan heran 17 kursi SMA terbaik di Jakarta, untuk pilihan kedua,”

“Banyangkan kalau tak ada jalur Mandiri, orang Gorontalo, tak akan lebih dari 10 mahasiswa dari 50 kursi total semua jalur baik prestasi, UTBK dan Mandiri,”

Kenapa Yang Mandiri Lebih Mahal ?

Menurut Eduart, adanya perbedaan kemampuan akademik, teruji melaui seleksi nasional dan seleksi mandiri, tidak fakir. Dan bukan berarti mahasiswa jalur mandiri bukan anak bangsa. Tak demikian, karena ada subsidi silang.

Ada yang Celoteh  Kuliah di Kedok UNG Kemahalan

Paradigma masyarakat yang harus kita ubah, sehingga kita pikirkan secara finansial mumpuni, dan belajar dari universitas luar Gorontalo, peran para alumni besar dalam meningkatkan keuangan kampus. Untuk Gorontalo, masih berproses dari para alumni untuk berkontribusi.

Tentu kita tak harus menunggu segala sesuatu serba ada, baru melangkah untuk meimgkatkan mutu pendidikan Gorontalo.

Data menyebutkan bahwa ada sekitar 3000 an mahasiswa masuk dalam golongan kalangan tidak mampu, pada angka 400 ribu sampai 1 juta biaya pendidikan. Para orangtuanya, penghasilan kecil masuk dalam kategori masyarakat miskin.

Kenyataan yang dihadapi kampus UNG ada mahasiswa orang Gorontalo, melalui seleksi nasional dengan nilai tertinggi, namun orangtuanya tidak mampu. Sebagai Rektor kata Eduart berupaya membangun sinergi dengan Pemda kabupaten / kota Gorontalo asal mahasiswa.

Punya Uang Banyak, Tak Menjamin Lulus Jalur Mandiri Kedokteran UNG

Ini ditegaskan Wolok, bahwa tak selamanya, uang menjadi alasan calon mahasiswa lulus di Kedokteran. Selain kemampuan akademik harus terpenuhi, daerah asal mahasiswa merupakan prioritas mendapatkan tenaga dokter.

“Rata-rata pembayaran uang masuk kedokteran 175 juta sampai 300 an juta. Ada calon mahasiswa siap dengan uang pembangunan lebih dari itu tak kami luluskan,”  tegasnya.

Ini diungkapkan juga oleh Ramli Anwar mahasiswa Kedokteran angkatan 2022, yang merogok kocek 175 juta. Sementara calon mahasiswa yang lain sudah menyiapkan 400 juta, hasilnya, belum diterima pihak UNG.

“Sempat menjadi pembicaraan calon mahasiswa, sembari berbagi pengalaman berapa biaya yang disiapkan orangtua untuk sebuah kursi calon dokter. Saya tersenyum dan bersyukur anak ku lulus dan menyatakan kesanggupan membayar biaya 175 juta. Sebelah saya berani 400 juta tapi sayang belum lulus jalur mandiri,” ungkap Haji, sapaan akrab pemilik Warkop Amal yang keuntungan nya disumbangkan 100 persen untuk pesantren Al-Islam.

Sembari bergumam dalam hati bahwa beruntung menjadi orang Gorontalo, mendapat prioritas kuliah dikedokteran. Kalau dikampus lain, belum tentu anaknya lulus.

4 Tahun Terakhir, Perhatian Pemerintah Daerah Tak Ada Untuk  Faked UNGdan Mahasiswa Kurang Mampu.

Harus disadari, sejak dini, mendirikan Fakultas Kedokteran ini, untuk menjawab kurang dan tak menetapnya tenaga dokter di Gorontalo. Dengan dukungan semangat semua pihak, 4 tahun fakultas ini berdiri dan 2022 masuk angkatan ke-4.

Tantangan kemudian yang menunggu didepan mata, partisipasi pemda dalam kolaborasi penyiapan tenaga medis dokter.

Satu sisi, pemerintah membutuhkan dokter guna memberikan layanan kesehatan. Sisi lain, UNG dituntut menjaga kualitas sumber daya terutama tenaga kesehatan, baik dokter dan ners (perawat).

Ini harusnya ada partisipasi, terutama pemerintah daerah, selaku user, dalam pemanfaatan lulusan kedokteran semua universitas termasuk UNG.

Pengalaman Fakultas Kedokteran selama 4 tahun terakhir, harus dibilang banting tulang, sendiri, menjaga kualitas, pro daerah dan biaya murah, seperti yang disampaikan mantan Bupati Boalemo Roem Pagau dalam sesi tanya jawab.

Bandingkan dengan daerah lain, untuk jurusan yang sama, biayanya lebih besar, belum ditambah biaya lain.

Awal penerimaan Fakultas Kedokteran 4 tahun lalu,  biaya masuk kecil 50 jutaan. Kini mereka akan memasuki praktek kedokteran, yang persemesternya 25 juta selama dua tahun.

Untuk angkatan pertama, sebagian besar ada mahasiswa yang akademiknya bagus, hanya kemampuan keuangan rendah. Disinilah pemerintah memberikan kontribusi. Baik Pemerintah Kota Gorontalo, Bone. Ol go, Boalemo, Kabupaten Gorontalo, Gorontalo Utara dan Pohuwato, yang mahasiswanya sementara menyelesaikan studi difakultas ini untuk ditunjang dengan anggaran yang memadai.(RM)

Exit mobile version